Harga Tanah Gila-gilaan Sebabkan Jogja Kekurangan Rumah

Ilustrasi perumahan berskema FLPP (Rachman/JIBI - Bisnis)
13 April 2018 05:50 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Minat konsumen terhadap perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di DIY sangat tinggi. Hanya saja upaya pengembangan masih terganjal beberapa persoalan.

"Pada dasarnya semua wilayah di DIY, kecuali Kota Jogja, memungkinkan untuk pengembangan rumah MBR," ujar Ketua Real Estate Indonesia (REI) DIY, Rama Adyaksa Pradipta, Kamis (12/4/2018).

Backlog perumahan di DIY cukup besar, di mana kebutuhan akan hunian bagi MBR di DIY ini rata-rata mencapai 250.000 unit per tahun. Rama mengungkapkan suplai rumah ini masih belum signifikan dalam mengurangi backlog tersebut.

Padahal minat pasar terhadap rumah-rumah MBR sangat tinggi. Sementara dari sisi suplai baru bisa memenuhi kurang dari 10% dari jumlah kebutuhan rumah tersebut.

"Dengan suplai sebanyak itu, belum bisa mengurangi backlog secara signifikan. Sleman dan Bantul cukup memungkinkan untuk mengembangkan MBR. Untuk wilayah Kulonprogo, saat ini harga tanahnya sudah over price, jadi agak sulit," ungkap Rama.

Kendati pembangunan bandara baru di Kulonprogo, dinilai akan menguntungkan bagi berbagai sektor. Namun, untuk mengembangkan rumah murah bagi MBR, cukup culit direalisasikan.

"Bisa dikembangkan, hanya saja lokasinya pasti sangat jauh. Misalnya di Nanggulan, harga tanahnya masih memungkinkan untuk pengembangan perumahan MBR," jelas Rama.