Latifah Putranti Yakin Kulonprogo Nantinya Bisa Jadi Ikon DIY

Latifah Putranti - Ist/Latifah Putranti
17 April 2018 11:05 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES-Kebaruan objek pariwisata sebuah daerah selalu membuat penasaran. Begitu juga yang dirasakan Latifah Putranti.

Saat mendengar kata Kulonprogo, dara 24 tahun ini langsung mengisi benaknya dengan definisi berikut: Kulonprogo adalah salah satu kabupaten yang ada di DIY bagian barat, berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, terdiri dari deretan perbukitan Menoreh dan sawah-sawah nan luas di sepanjang jalan.

Latifah cukup bersahabat dengan Kulonprogo. Ia sering menjemput ibunya. Tak hanya itu, beberapa objek wisata di Bumi Menoreh, sesekali ia sambangi seperti Pantai Glagah, Pantai Trisik, kawasan mangrove.

Menurut putri sulung Sukidah dan Sukirno ini, akan lebih istimewa lagi bila potensi objek wisata Kulonprogo semakin dieksplorasi.

"Semakin banyak wisata baru yang muncul, menjadi kawasan wisata yang indah. Ternyata bisa menjadi tujuan wisata yang disukai banyak orang," kata Tifa, sapaan karibnya, Minggu (15/4/2018).

Di luar perkembangan wisata Kulonprogo, mahasiswi Magister Sains Universitas Gadjah Mada ini sebelumnya tak pernah membayangkan, di Kulonprogo akan ada pembangunan bandara internasional.

Ia justru membayangkan bandara tersebut akan dibangun di salah satu wilayah di Kabupaten Bantul, seperti rumor yang lama berembus.

"Tapi saya pernah membayangkan, pusat Jogja lambat laun akan menyebar atau bahkan pindah ke wilayah selatan, seiring berjalannya waktu," kenang warga Dagan, Murtigading, Sanden, Bantul itu.

Tifa memandang, kendati bakal menjadi pintu gerbang dan bisa pula pusat detak perekonomian DIY, pemerintah setempat tetap menjaga kelestarian alam khas Kulonprogo yang indah. Terutama sawah-sawah yang baginya adalah benchmark Kulonprogo. "Jadi kalaupun ada bandara, harus tetap tertata," ujarnya.

Ia mendukung penuh adanya upaya pemerintah untuk fokus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia masyarakat Kulonprogo lewat pemberian pelatihan teknologi dan softskill.

Tentu saja, kata dia, agar warga West Prog, demikian warga Kulonprogo sering mempelesetkan daerah ini, bisa ikut andil setelah bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) beroperasi.