Wilayah Gunungkidul Masuki Musim Kemarau

Ilustrasi kemarau di ladang pertanian - Bisnis Indonesia/Rachman
13 Mei 2018 23:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), DIY menilai saat ini di daerah DIY sudah mulai memasuki musim kemarau. Musim kemarau diprediksi berlangsung hingga bulan Oktober.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG DIY Djoko Budiono mengatakan, prediksi musim kemarau di akhir April atau awal Mei di semua wilayah DIY.

“Sudah masuk musim kemarau ini suhu maksimum di siang hari bisa mencapai 32-34 derajat Celsius. Ini baru awal musim kemarau, jika normal di Oktober masuk musim penghujan. Nanti kami update lagi,” kata Djoko, Minggu (13/5/2018).

Ia juga mengatakan, dimungkinkan akan terjadi kekeringan di daerah rawan kekeringan. Ia mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat air dan mempersiapkan untuk musim kemarau, karena saat ini hujan sudah sangat berkurang drastis. Ia memprediksi puncak kemarau akan terjadi di Agustus.

Camat Tanjungsari Rahmadian mengatakan, pihak kecamatan sudah melakukan beberapa antisipasi untuk menghadapi kekeringan di wilayahnya. Menurutnya ada beberapa titik yang biasanya mengalami kekeringan.

“Ada beberapa titik biasanya yaitu di sebagian Desa Hargosari, sebagian desa Ngestirejo, lalu sebagian kecil Desa Kemiri. Sebagian-sebagian saja biasanya tidak menyeluruh. Kami juga sudah siapkan nanti tangki air, namun jika masih kurang akan berkoordinasi dengan BPBD,” ucapnya.

Dia mengatakan, biasanya mulai memasuki kekeringan di bulan Juni atau Juli, hingga Oktober mulai berkurang. “Mungkin bulan depan [Juni] atau Juli, sampai kalau normal ya Oktober sudah mulai hujan sedikit-sedikit biasanya,” katanya.

Namun, saat ini Rahmadian telah menerima laporan beberapa titik sudah mengalami kekeringan, seperti di Hargosari ada dua titik. Ia mengatakan terus berkoordinasi dengan PDAM untuk mengantisipasi kekeringan.

“Saya harap masyarakat mempercayakan kepada pihak kecamatan, kami upayakan untuk terus berkoordinasi dengan pihak PDAM agar nantinya tidak terjadi masalah kesulitan air lagi saat musim kemarau,” kata Rahmadian.

Kepala Desa Petir, Rongkop Sarju mengatakan, di tempatnya juga ada beberapa KK yang biasanya mengalami kesulitan air, tetapi sangat sedikit.

“Ada sekitar tujuh KK biasanya yang sulit air kalau musim kemarau, bisa diatasi dengan pakai selang ke tetangga atau musala terdekat. Tidak sampai membeli air,” ucapnya.

Dia mengatakan, biasanya mulai parah masuk kemarau pada September. Dia berharap agar pada musim kemarau ini juga tidak parah sehingga tidak ada warganya yang kesulitan air.

Ad Tokopedia