Kamis Mulai Puasa, Tahun Ini Tidak Ada Perbedaan

Anak-anak menumpang gerobak sapi saat pawai menjelang Ramadan di Dusun Plosokuning, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Minggu (13/5 - 2018) Harian Jogja/Irwan A.Syambudi.
15 Mei 2018 10:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri pada 1439 hijriah hampir bisa dipastikan tidak ada perbedaan, yakni akan jatuh pada Kamis (17/5/2018), sedangkan 1 Syawal 1439 (Idulfitri) pada 15 Juni mendatang.

Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Oman Fathurrahman mengatakan, penentuan awal Ramadan dan Idulfitri tersebut berdasarkan syarat perhitungan (hisab) awal bulan baru. Berdasarkan konjungsi bulan dan matahari, posisi bulan diakuinya masih berada di atas horizon.

"Pada Rabu sore [16/5/2018], posisi bulan mencapai 12 derajat. Sudah sangat tinggi dan akan bisa terlihat, kecuali tertutup mendung,” ujar Oman dalam jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Senin (14/5/2018).

Ramadan tahun ini, kata dia, hanya berlangsung selama 29 hari. Menurutnya, masa 29 atau 30 hari itu sudah dianggap satu bulan. "Adapun penghitungan konjungsi matahari dan bulan saat 1 Syawal 1439 hijriah nanti tinggi bulan sudah mencapai tujuh derajat. Artinya, Idulfitri jatuh pada Jumat [15/6/2018] mendatang,” katanya.

Berbeda dengan Muhammadiyah, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY Nizar Ali ketika dikonfirmasi juga mengaku masih menunggu hasil rukyat. “Ya menunggu hasil rukyat yang dilakukan besok sore,” katanya melalui pesan singkat, kemarin.

Staf Bimbingan Syariah Bidang Urais Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kemenag) DIY Ahmad Shidqi mengakui dari perhitungan wujudul hilal pada 1 Ramadan dan 1 Syawal sama dengan perhitungan Muhammadiyah.

Meski begitu sesuai instruksi Kemenag, pihaknya harus menunggu insanul rukyat atau kemungkinan hasil pemantauan bulan dengan menggunakan teropong yang rencananya akan dilakukan di Bukit Syekh Bela-Belu di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Rabu (15/5/2018) sore.

Dia memperkirakan, ketinggian bulan masih berada pada -0,6 derajat, jika tidak terlihat maka Sya’ban akan digenapkan 30 hari. Berdasarkan kesepakatan Kemenag se-ASEAN, tinggi hilal dinyatakan sudah masuk bulan baru jika di atas empat derajat.

“Kemungkinan awal dan akhir Ramadan akan bersamaan, karena sudah di atas empat derajat,” kata Gus Asid, sapaan akrabnya.