Melacak Sejarah Pura Pakualaman di Kulonprogo

Para peserta Seminar Sejarah dan Jelajah Budaya bertema Menapak Jejak Kadipaten Pakualaman di Kulonprogo berfoto bersama usai kegiatan, Selasa (15/5/2018). - Ist
15 Mei 2018 22:50 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Jogja merupakan kota yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang terkenal hingga Mancanegara. Selain mendapat julukan sebagai Kota Budaya, Jogja juga dikenal sebagai Kota Sejarah.

Salah satu lokasi yang memiliki nilai sejarah yang tinggi adalah Pura Pakualamam. Untuk mendalami aspek sejarah dari tempat ini, Dinas Kebudayaan Kota Jogja menggelar kegiatan Seminar Sejarah dan Jelajah Budaya bertema Menapak Jejak Kadipaten Pakualaman di Kulonprogo.

Kegiatan tersebut berlangsung dua hari, Senin (14/5/2018) hingga Selasa (15/5/2018) di nDalem Kepatihan Pakualaman (AKPER Notokusumo). "Kami ingin mengungkap kembali tentang sejarah terkait dengan Kadipaten Pakualaman yang berada di Kulonprogo," kata Plt Bidang Sejarah dan Bahasa Disbud Jogja Dwi Hana Cahya Sumpena, Senin (14/5/2018).

Melalui kegiatan tersebut diharapkan peserta dapat pengetahuan mengenai sejarah Kadipaten Pakualaman di Kulonprogo. Menurutnya, masih banyak sejarah Pakualaman yang belum diketahui oleh masyarakat. Disbud pun ingin menggali dan mengingatkan kembali peristiwa bersejarah tersebut.

"Untuk mengetahui peninggalan yang penting dari Pakualaman, maka kami mengajak untuk lebih memahami Pakualaman tidak hanya aspek sejarah. Tetapi juga nilai adiluhung di dalamnya," kata Dwi.

Pada kegiatan Seminar, Disbud mendatangkan Sudibyo sejarawan Fakultas Ilmu Budaya UGM, KPH. Kusumoparastho (Pura Pakualaman), dan KRT. Projo Anggono (Pura Pakualaman). Sedangkan narasumber untuk Jelajah Budaya, tiga narasumber berasal dari Pura Pakualamam meliputi KRT. Projo Anggono, Rimawan Sestrodirjo dan Wintang Esti Mumpuni.

Pengageng Urusan Kapanitran Kadipaten Pakualaman KRT Projo Anggono mengatakan Pura Pakulaman berdiri di area seluas 54.238 meter persegi. Secara umum bangunan yang ada dibangun mengikuti kaidah-kaidah aristektur Jawa. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu gerbang atau yang biasa disebut dengan nama Gapura Danawara. "Gapura ini merupakan akses masuk utama menuju Pura Pakualaman," katanya.

Bagian atap gapura dibentuk kampung srotong yang menyimbolkan kehidupan di dalam bangunan tersebut penuh dengan kesederhanaan.

Pada gapura tersebut juga terdapat tulisan Jawa "Wiwara Kusuma Winayang Reka". Maksudnya, Pura Pakualaman merupakan zona kehidupan yang memiliki kedalaman pikiran yang mendalam.

Di dalam Pura Pakualaman terdapat Bangsal Sewatama. Bangsal Sewatama merupakan bangunan besar dengan atap limasan berjajar tiga. Bangsal ini menyerupai pendapa atau bangunan terbuka. Kalau dalam rumah Jawa, ruang tersebut termasuk bangunan publik. "Bangsal ini salah satunya digunakan untuk pagelaran kesenian tradisional," katanya.

Selain Seminar, Disbud juga menggelar Jelajah Budaya. Kegiatan jelajah budaya yang dilangsungkan pada Selasa (15/5/2018). Para peserta diajak mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah milik Pakualaman di wilayah Kulonprogo. Seperti Pesanggrahan Glagah dan Paseban Masjid Makam Giri Gondo. Kedua tempat ini memiliki nilai sejarah tersendiri bagi Pakualaman. Sebabnya, tempat tersebut merupakan tempat pemakaman untuk Paku Alam V sampai dengan Paku Alam IX, serta merupakan benda cagar budaya.

Kasie Sejarah Disbud Jogja Tri Sotya Atmi menambahkan peserta yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari para guru SMA/SMK se-Kota Jogja, 18 rintisan kelurahan budaya, DPC HPI Kota Jogja juga beberapa komunitas sejarah. "Selama jelajah budaya peserta kami ajak ke Pesanggrahan Glagah di Desa Glagah Temon dan Girigondo di Desa Kaligintung Temon," katanya.