Petani Gunungkidul Pening Hadapi Serangan Kera

Ilustrasi kera. - JIBI
15 Mei 2018 10:50 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Petani di Gunungkidul mengeluhkan spesies Macaca Fasciculari atau biasa disebut kera ekor panjang yang saban tahun menyerang lahan pertanian yang berada di Desa Tepus, Kecamatan Tepus. Akibatnya kerugian karena gagal panen serta kerusakan lahan tak bisa dihindarkan.

Salah satu petani, Wagino, 60, mengungkapkan serangan kera ekor panjang di lahan pertanian miliknya sudah berlangsung sejak tiga tahun terakhir. "Dulu satu lahan jagung saya ludes diserbu mereka [kera ekor Panjang]," ujarnya kepada Harianjogja.com, Senin (14/5/2018).

Berbagai upaya untuk menangkal serangan itu sudah dilakukan, meliputi pemasangan jaring serta penjagaan rutin oleh para petani di lahan pertaniannya masing-masing. "Bahkan sampai harus pake senapan, tapi hanya untuk menggertak, bukan kami tembak," kata Wagino.

Meski serangan kera ekor panjang sudah meresahkan, Wagino enggan menggunakan cara-cara tak manusiawi dalam upaya menangkal serangan hewan tersebut. "Ledakan senapan sudah cukup membuat mereka takut, kami tidak mau menyakiti, kami hanya butuh solusi konkrit dari pemerintah," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Wasiyah, 70. Dari pengalamannya, setiap musim panen datang baik itu panen ketela, kacang, jagung dan lain sebagainya bisa dipastikan petani akan dipusingkan dengan serangan kera. "Biasanya mereka [kera] dalam jumlah ratusan turun dari hutan yang ada di bukit. Sasaran mereka lahan pertanian dekat bukit," jelasnya.

Wasiyah menjelaskan dulu keberadaan kera ekor panjang tidak sebanyak sekarang. Sebab habitat mereka yakni di beberapa bukit yang ada di Desa Tepus dulu masih difungsikan petani untuk keperluan ladang. "Kini petani sudah tak pakai bukit itu lagi, jadi bukit itu jadi tempat berkembangnya mereka," imbuhnya.

Wasiyah berharap, pemerintah mampu memberikan solusi dari masalah ini. Sebab, petani di wilayahnya kini hanya bisa pasrah. "Kalau sudah musim panen, kami hanya berdoa semoga serangan kera tidak parah," katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengakui adanya permasalahan tersebut. Namun pihaknya tak bisa berbuat banyak. Alasannya penanganan serangan kera merupakan wewenang dinas provinsi, sebab kera merupakan hewan yang dijaga dan dilindungi. "Jika hama tikus, wereng, belalang dan sejenisnya itu memang ranah kami, tapi kalau untuk kera tidak," ujarnya.

Kendati demikian lanjutnya, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul tidak tinggal diam. Berbagai sosialisasi dan imbauan kepada petani pernah dilakukan. "Misalnya sosialisasi antisipasi menggunakan teknik jaring. Dulu pernah kita lakukan juga tapi itu kerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Universitas," jelasnya.

Ad Tokopedia