Masih Ada 30 Penderita Kusta di DIY

Kampanye bebas kusta. - JIBI
17 Mei 2018 09:50 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pemerintah mengklaim mampu mengeliminasi penyakit kusta. Hingga akhir 2017 penderita penyakit ini di DIY hanya tersisa 30 orang.

Pengelola Program Pemberantasan Penyakit Kusta DIY Ummul Khair menjelaskan temuan penderita penyakit kusta paling banyak terdapat di Gunungkidul.

Meski mengklaim mampu mengeliminasi penyakit kusta, namun pemerintah belum bisa melakukan eradikasi atau menghilangkan penyakit tersebut. "Berdasarkan laporan terakhir, kami belum menemukan kasus di Kota Jogja. Hanya beberapa daerah paling banyak Gunungkidul," katanya, Rabu (16/5/2018).

Selain melakukan sosialisasi untuk menurunkan penularan penyakit kusta, pihaknya juga memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena selama ini, masih ada stigma negatif kepada penderita kusta.

"Padahal penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae ini tidak akan menular dengan mudah. Penularannya membutuhkan kontak dalam waktu lama sekitar dua hingga lima tahun," katanya.

Dia mengatakan orang yang tinggal terus menerus dengan penderita kusta memiliki potensi yang lebih besar untuk terserang penyakit tersebut. Meski begitu, penderita yang rutin mengonsumsi obat dipastikan tidak akan menularkan penyakitnya ke orang lain. "Kami berharap masyarakat tidak perlu takut kalau berdekatan dengan penderita kusta," katanya.

Pengobatan kusta disesuaikan dengan jenis penyakit kusta. Kusta kering membutuhkan pengobatan rutin selama enam hingga sembilan bulan sedangkan kusta basah membutuhkan pengobatan lebih lama yaitu 12 hingga 18 bulan. "Kalau tidak segera diobati, potensi penularan ke orang lain hingga cacat fisik, mulai dari cacat pada jari kaki, tangan dan hidung bisa terjadi," ujarnya.

Menurutnya, penderita kusta dengan pengobatan yang rutin bisa disembuhkan. Hanya saja kondisi fisik yang cacat tidak bisa dikembalikan. Dia meminta masyarakat yang mengalami gejala awal kusta yaitu bercak berwarna putih atau merah dan apabila disentuh mati rasa untuk memeriksakan diri ke Puskesmas. "Jadi jangan disepelekan kalau ada bercak dan mati rasa. Pengobatan kusta gratis kok," katanya.

Kepala Dinkes Jogja Fita Yulia Kisworini mengatakan untuk monitoring kesehatan masyarakat petugas Puskesmas setiap hari akan berkeliling ke rumah-rumah warga untuk memeriksa seluruh anggota keluarga. Hal itu bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan dalam satu keluarga. Pendekatan secara keluarga ini dilakukan untuk melihat lebih dekat kondisi kesehatan keluarga. "Petugas dari masing-masing Puskesmas akan terus melakukan kegiatan promotif dan preventif kepada masyarakat. Termasuk untuk penyakit kusta ini," katanya.