Kenapa Masjid Sering jadi Tempat Kampanye Politik?

Ilustrasi kampanye. - nukltimedia.journalism.berkeley.edu
17 Mei 2018 05:50 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pengamat Politik Fisipol UGM Wawan Mas'udi menilai masjid kerap jadi tempat kampanye politik karena banyak orang berkumpul dengan basis massa yang jelas.

Selain itu dapat membangkitkan eksploitasi politik identitas untuk memancing dan menggerakkan pilihan emosional seseorang. Sehingga Masjid bisa menjadi ekspresi bagi pata caleg atau politisi untuk menunjukkan mereka peduli pada masyarakat.

"Ini fenomena dari waktu ke waktu memang terus terjadi, selalu ada. Diatur kayak apapun selalu ada, entah itu eksplisit maupun implisit," ungkap dia, Rabu (16/5/2018).

Secara hukum, tempat ibadah menjadi salah satu yang tidak boleh dipakai untuk kampanye. Bukan melarang Masjid sebagai tempat aktifitas politik secara umum seperti mengarahkan pemikiran masyarakat bahwa seseorang dinilai cocok untuk merepresentasikan masyarakat atau jemaah tersebut. Sehingga aktifitas politik di Masjid baik secara halus maupun lainnya tetap saja dilakukan meski secara aturan tidak diperbolehkan.

Ia menegaskan, secara etika masjid tidak boleh dijadikan sebagai aktifitas politik praktis karena menjadi tempat ibadah dengan beragam masyarakat. Selain itu, masyarakat yang datang ke masjid bukan untuk berpolitik melainkan beribadah. "Jemaah ke masjid kan untuk beribadah, kalau tiba-tiba sampai di masjid ada yang mengajak ini itu kan jadinya tidak nyaman," kata dia.

Ia mengatakan, tidak ada regulasi yang tepat untuk melakukan pembatasan terhadap aktifitas politik di masjid. "Karena pemanfaatan tempat ibadah yang lebih luas itu kan tidak bisa diatur di dalam undang-undang pemilu," ungkapnya.