UII Merevisi Kurikulum ke Arah Digital

Sejumlah dosen mengikuti serasehan untuk merespons revolusi industri 4.0 dalam menghasilkan lulusan perguruan tinggi, Kamis (24/5/2018). - Harian Jogja/Sunartono
24 Mei 2018 17:10 WIB Sunartono Sleman Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN--Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) merevisi kurikulum standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) menjadi ke arah berbasis digital demi merespons perkembangan teknologi industri. Perubahan kurikulum itu dilakukan berdasar atas kekhawatiran lulusan yang berpotensi kehilangan profesi karena ditelan perkembangan teknologi industri.

Rektor UII Nandang Sutrisno menjelaskan FTSP UII sebenarnya baru saja merevisi kurikulum berbasis KKNI. Namun revisi akan dilakukan lagi dengan menyesuaikan perkembangan teknologi atau datangnya era disrupsi yang dipicu revolusi industri 4.0. Revisi itu harus dilakukan karena industri 4.0 secara perlahan menghilangkan berbagai jenis profesi dan memunculkan profesi baru.

"Karena kami khawatir, jangan-jangan kami sedang mengajarkan mahasiswa untuk profesi yang sebenarnya itu sudah tidak ada. Sehingga kurikulum harus visioner bisa membaca gerak industri 4.0 secara benar," ucapnya di sela-sela serasehan dosen FTSP UII, Kamis (24/5/2018).

Ia menambahkan FTSP mulai mengkaji secara mendalam dengan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi industri 4.0, meski tidak harus direspons secara berlebihan. Selain itu, dunia pendidikan tidak hanya mengajarkan tentang industri tetapi juga terkait kearifan lokal. Melalui revisi kurikulum tersebut, diharapkan mampu melahirkan SDM kreatif, inovatif karena dengan itu lulusan bisa beradaptasi pada zaman apapun.

"Konten kolaborasi juga penting, tidak lagi berkompetisi berdiri sendiri tetapi bergabung. Perusahaan besar, mereka membangun jaringan perusahaan antara satu dengan yang lain terintegrasi secara digital," ucapnya.

Dekan FTSP UII Widodo menyatakan revisi kurikulum KKNI akan diarahkan pada kurikulum digital. Sejumlah proses mekanik yang dilakukan secara manual akan digeser ke arah digital.

Widodo mencontohkan proses pembangunan gedung 57 lantai bisa diselesaikan dalam waktu 19 hari karena proses perencanaan secara digital dengan perhitungan sangat matang dan minim terjadi kesalahan pasang. Sehingga, sarjana arsitektur atau teknik sipil tidak hanya menggambar di perencanaan tetapi juga membuat fabrikasi hingga rantai pasok material. Kenyataan itu akan membuat teknisi di lapangan menjadi tidak banyak dibutuhkan.

Adplus Tokopedia