Banyaknya Pengecer Picu Kenaikan Harga Gas Melon hingga Rp22.000

Sejumlah warga mengantre untuk membeli elpiji tiga kilogram di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Dusun Ambarukmo, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, belum lama ini.Harian Jogja/Irwan A.Syambudi
05 Juni 2018 22:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN—Selama Ramadan, harga elpiji tiga kilogram atau gas melon terus meningkat dari harga normal sekitar Rp15.500. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman menganggap banyaknya pengecer membuat rantai pasokan semakin panjang dan harga menjadi tinggi.

Berdasarkan data Disperindag Sleman, harga gas melon di pasaran mencapai Rp21.000 sampai Rp22.000. Padahal menurut Kepala Disperindag Sleman, Tri Endah Yitnani, normalnya pada kisaran Rp15.500. Ia mengatakan kenaikan harga tersebut disebabkan panjangnya rantai distribusi. "Harga di pasaran harusnya Rp15.500, namun naik karena adanya pengecer yang membuat rantai pasok jadi panjang, sehingga biaya distribusi dibebankan kepada konsumen," kata Tri Endah, Senin (4/6/2018).

Menurut Tri Endah, seharusnya distribusi gas melon dari agen juga pangkalan bisa langsung ke konsumen. Untuk stok, saat ini masih aman. Meski demikian Disperindag Sleman memberikan tambahan kuota sebagai antisipasi kelangkaan dengan memanfaatkan kuota fakultatif. Selama Ramadan dan Lebaran, kuota gas melon ditambah 4% dari sebelumnya 987.040 tabung, naik menjadi sebanyak 1.026.522 tabung.

Ad Tokopedia