Piala Bupati Meriahkan Takbir Keliling di Sleman

Salah satu kelompok peserta berpawai dalam Lomba Takbir Keliling di Jalan Parasamya, Desa Tridadi, Sleman pada Kamis (14/6/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
14 Juni 2018 23:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN--Lomba Takbir Keliling diadakan untuk memperebutkan piala bergilir Bupati Sleman pada Kamis (14/6/2018). Pada Lomba Takbir Keliling kali ini nilai-nilai Jawa dan Islam diusung sebagai tema.

Ketua Panitia Lomba Takbir Keliling Sutrianto mengatakan ada 17 kelompok yang mengikuti Lomba Takbir Keliling. "Satu kelompok rata-rata ada ratusan orang, bahkan bisa sampai 300 orang, jadi ada ribuan orang yang terlibat sebagai peserta di takbir keliling tahun ini," ungkap Sutrianto pada Harianjogja.com, Kamis (14/6/2018).

Sutrianto mengatakan pada pelaksanaan Lomba Takbir Keliling tahun ini masih memperebutkan piala bergilir Bupati Sleman. Tropi yang diperebutkan mulai dari juara satu, dua, dan tiga, selain itu ada juga juara harapan, kostum, musik, dan display terbaik.

Tahun ini panitia mengusung tema jawa islam dalam gelaran Lomba Takbir Keliling. "Nilai-nilai yang diusung dalam Lomba Takbiran Keliling tahun ini yaitu ukhuwah islamiah sesuai syiar islam, dengan jawa islami," katanya.

Sementara yang menjadi bahan penilaian dari dewan juri yaitu jumlah jamaah, aksesoris, kostum, maskot, gerakan dan kekompakan peserta. Beberapa personel keamanan juga disiapkan dari Polsek Sleman untuk mengamankan perayaan Lomba Takbir Keliling.

Peserta pawai berjalan mulai dari Taman Denggung, Desa Tridadi, Sleman sampai Masjid Agung Sleman. Sedangkan dari Masjid Agung Sleman peserta berputar kembali menuju Rumah Dinas Bupati Sleman, setelahnya, peserta membubarkan diri.

Peserta dari Jamaah Al-Muttaqien, Desa Caturharjo, Sleman Hasan Shiddiq mengatakan dalam perayaan takbiran kali ini nilai-nilai toleransi menjadi nilai yang diangkat oleh kelompoknya.

"Kami membuat replika berbentuk awan, melambangkan surga, juga kami memakai pakaian jawa, karena menyesuaikan budaya, jadi nuansa islam dan jawanya kita padukan," ungkapnya pada Harianjogja.com.

Adplus Tokopedia