Panen di Wates Menggembirakan, Satu Hektare Hasilkan 10 Ton Gabah

Ilustrasi Panen padi - JIBI
07 Juli 2018 07:15 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, KULONPROGO—Hasil panen padi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Marem, Desa Giripeni, Kecamatan Wates, pada musim tanam (MT) kedua 2018 ini sangat menggembirakan. Berdasar hasil pendataan, hasil meningkat lebih dari satu ton per hektare (Ha) dibanding MT sebelumnya.

Ketua Gapoktan Marem, Desa Giripeni, Untung Suharjo, menuturkan pada MT pertama Februari 2018 hasil panen kelompoknya hanya berkisar sembilan ton per hektare. Kemudian pada MT kedua Juli ini, hasil panen meningkat menjadi 10,06 ton per ha. Pada MT tahun ini, para petani anggota Gapoktan Marem menanam padi varietas ciherang. Pada MT pertama, tanaman padi kelompoknya sempat diserang organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa penggerek batang dan patah leher. Sedangkan pada MT kedua, serangan hama lebih sedikit karena ketersediaan air sangat minim setelah ditutupnya Saluran Irigasi Induk Kalibawang untuk keperluan perbaikan.

"Sebelum irigasi ditutup, para petani telah menerima pemberitahuan. Gapoktan Marem kemudian memberanikan diri tetap menanam padi dengan perhitungan matang. Seluruh lahan pertanian padi Gapoktan Marem seluas 52 ha akhirnya panen dengan hasil memuaskan," kata dia, Jumat (6/7/2018).

Menurut dia, dengan menyebar gabah di waktu yang tepat, tanaman padi petani bisa merekah matang sempurna saat irigasi ditutup. Penyiraman sebulan sebelum masa panen dilakukan dengan cara manual, yaitu memompa air dari sumber serta membendung sungai untuk menaikkan debit air sungai, sehingga saat padi matang, hama penyakit tidak banyak karena keterbatasan air. Petani setempat di saat yang sama mengendalikan hama dengan agen hayati seperti penanaman kenikir, bunga bougenville dan bunga matahari.

Kegembiraan petani tidak hanya berupa hasil panen melimpah saja, tetapi juga peningkatan harga. Jika pada MT pertama gabah kering dihargai Rp4.000 per kilogram (kg), pada MT kedua ini meningkat menjadi Rp5.000 per kg. Penyebabnya banyak lahan pertanian di Kulonprogo yang tidak bisa panen padi sebagai dampak ditutupnya Saluran Irigasi Induk Kalibawang. Tidak sedikit petani yang kemudian beralih memilih menanam jagung.

Namun di kesempatan yang sama ia menyatakan petani yang tergabung dalam Gapoktan Marem masih membutuhkan sarana pertanian berupa jaringan irigasi. Sebab saat ini jaringan irigasi yang ada yakni sepanjang 1.500 meter masih belum permanen. Selain itu Pemkab Kulonprogo juga diminta membantu pembuatan sumur pantek, meningat letak geografis lahan pertanian di Desa Giripeni membuat air sulit mengalir. Irigasi berada di sebelah barat lahan, dengan posisi ada di bawah, menyebabkan air sulit sampai ke lahan warga yang berada di sebelah timur.

"Pembuatan sumur pantek sulit diusahakan secara swadaya, biayanya cukup mahal. Untuk membuat satu buah sumur pantek dibutuhkan dana Rp2 juta, sementara jumlah sumur pantek yang harus dibuat mencapai ratusan. Kami sudah mengajukan bantuan pada 2016 lalu namun hingga kini belum ditindaklanjuti,”ucapnya.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, mengungkapkan peningkatan hasil panen petani di Giripeni menjadi satu langkah masyarakat menuju kemandirian pangan dan swasembada pangan. Pemkab Kulonprogo, katanya, punya cita-cita kedaulatan pangan. Pemkab terus mendorong petani untuk bisa swasembada beras, agar tidak perlu ekspor beras dari negara lain. Jika jumlahnya banyak dan kualitasnya bagus, hasil panen tidak hanya dikonsumsi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga masyarakat luas.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia