Perajin Gula Semut di Menoreh Belum Butuh Kawasan Khusus

Produksi gula semut di Kokap, Kulonprogo.JIBI/Dokumen
09 Juli 2018 13:15 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, KULONPROGO—Perajin nira Kulonprogo menyoroti rencana Dinas Perdagangan (Disdag) membangun kawasan atau sentra gula semut. Mereka menyatakan ada sejumlah hal lain yang mereka perlukan.

Kepala Disdag Kulonprogo, Krissutanto, mengatakan industri kecil menengah (IKM) gula semut perlu dimantapkan, karena secara geografis gula semut merupakan produk khas Kulonprogo selain batik geblek renteng dan kopi menoreh. Oleh karena itu Pemkab harus berjuang keras untuk meningkatkan produksi dan memopulerkannya di khalayak umum. "Kami memikirkan kawasan sebagai strategi pengembangan gula semut jangka panjang. Karena [kalau dibiarkan] eman-eman [sayang sekali]," kata dia, Minggu (8/7/2018).

Kendati demikian, Kris mengakui jajarannya menemui sejumlah kendala dalam mewujudkan kawasan gula semut, antara lain wilayah geografis perajin gula semut yang menyebar dan memiliki kontur geografis perbukitan sehingga cukup berat bila akan digabungkan menjadi kawasan. Dalam jangka waktu setahun, Disdag akan mulai mengupayakan kawasan gula semut Kulonprogo. "Kawasan penting dibuat untuk memudahkan segalanya mulai dari pembinaan, koordinasi, dan lainnya. Tapi kalau sekarang ini pembahasan rencana induk masih belum ada," ujar dia.

Selain membangun kawasan, Disdag merencanakan mengundang produsen gula semut perihal sertifikasi dan standar produk gula semut. Saat ini produsen mulai diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan angka produksi, terutama untuk produk kemasan kecil yang akan dijual di perhotelan.

Anggota Koperasi Serba Usaha Jatirogo, Hendrastuti, menuturkan ketimbang mendirikan kawasan, petani nira lebih mengharapkan Pemkab bisa melakukan percepatan peremajaan pohon kelapa dan perluasan lahan untuk meningkatkan produksi gula merah. Ia menyebutkan saat ini mayoritas pohon kelapa di Kulonprogo sudah berumur 50 tahun ke atas sehingga perlu peremajaan.

Alasan lain, lahan kelapa di Kulonprogo selama ini merupakan milik individu, bukan milik pemerintah atau swasta. Belum lagi penderes hanya dijalankan oleh sedikit orang. Pekerjaan ini berisiko tinggi karena setiap penderes harus mampu memanjat pohon kelapa yang memiliki tinggi sekitar 20 meter per batang. "Bayangkan kalau dibentuk kawasan," ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo, Bambang Tri Budi, menyatakan pada 2018 Pemkab merencanakan meremajakan tanaman kelapa seluas 100 hektare (Ha). Peremajaan ini disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Ia mengatakan tanaman kelapa memiliki produk turunan seperti gula merah dan gula semut yang merupakan salah satu produk unggulan di Kulonprogo. Dua produk ini secara perlahan mengangkat perekonomian dan kesejahteraan petani di Kulonprogo. Gula semut dari Kulonprogo sudah dipasarkan ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Bandung hingga pasar ekspor. Pemkab sangat memerhatikan sejumlah sentra kelapa, seperti di Kecamatan Kokap dan Panjatan. Tanaman kelapa di kedua wilayah itu sudah tua dan perlu diremajakan.

"Peremajaan tanaman kelapa didukung dengan hilirisasi produk, yakni kelapa menjadi gula merah dan produk turunannya. Kami memberikan bantuan alat pengolahan hingga membantu mencarikan pangsa pasar," ujarnya.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia