Kekeringan Meluas, Warga Plampang, Kokap, Mulai Konsumsi Air Keruh

Warga Dusun Plampang I mengisi ember dengan air keruh yang menjadi penopang kebutuhan harian mereka, Jumat (13/7 - 2018).Harian Jogja/Beny Prasetya
13 Juli 2018 19:15 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Bencana kekeringan yang melanda sebagian wilayah di Kabupaten Kulonprogo terus meluas. Jumlah keluarga terdampak yang sebelumnya terdata sebanyak 1.200 kepala keluarga (KK), kini bertambah menjadi 1.370 KK. Tiga desa di Kecamatan Kokap kini mengalami kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih. Bahkan demi mencukupi kebutuhan, warga terpaksa memanfaatkan air yang keruh.

Camat Kokap, Warsidi, mengatakan jajarannya terus mendata jumlah keluarga yang membutuhkan pasokan air bersih. "Sekitar 170 kepala keluarga di Desa Hargowilis, Kalirejo dan Hargotirto mulai kekurangan air bersih," katanya saat dikonfirmasi Jumat (13/7/2018).

Menurut Warsidi, di Desa Kalirejo terdapat 110 KK yang terdampak kekeringan. Ratusan kepala keluarga itu tersebar di sejumlah dusun seperti Dusun Plampang I, Plampang II, dan Plampang III. Sedangkan di Desa Hargowilis kekeringan melanda Dusun Clapar I, Clapar II, dan Clapar III. "Jumlahnya 19 KK di Dusun Clapar I, 21 KK di Dusun Clapar II, dan 20 KK di Dusun Clapar III. Kami terus mendata jumlah warga yang kekurangan air bersih, termasuk di Desa Kalirejo yang diperkirakan mencapai 110 KK," katanya.

Supardiyo, warga Desa Hargotirto menyatakan saat ini sumur miliknya telah kering. Beruntung dia masih bisa mendapatkan pasokan air bersih dari PDAM yang mengambil air dari Waduk Sermo. "Jaringan PDAM terpasang sejak dua tahun lalu, tetapi sering mati, katanya giliran dengan wilayah lain," katanya.

Hingga saat ini, program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dikembangkan oleh Pemkab Kulonprogo dengan membangun sumur bor, alat penyedot air, dan tangki penampung belum bisa digunakan secara optimal. Di Dusun Plampang I, pasokan air dari Pamsimas tidak bisa maksimal lantaran kapasitas tangki penampungan terlalu kecil.

Menurut Kepala Dusun Plampang I, Sarman, warganya yang berjumlah 230 KK belum bisa menikmati bantuan dari Pemkab Kulonprogo. Hal itu terjadi lantaran jumlah kebutuhan air warga dan tangki tidak seimbang. "Pernah sekali mencoba menyedot air sambil dibuka tandonnya, ternyata tandon tidak pernah bisa penuh, mesin penyedot terus menerus menyala sehingga bikin boros," katanya.

Untuk mencukupi kebutuhan, Sarman mengaku pihaknya memberlakukan buka tutup saluran tandon. Selain itu warga juga memodifikasi pipa air dengan cara ditanam. "Pipa ditanam di dalam tanah agar tidak mudah rusak. Kami juga memungut uang kepada warga untuk biaya membeli pulsa listrik mesin pompa penyedot air," katanya. Saat ini warga Plampang mengandalkan sebuah sumur untuk mencukupi kebutuhan. Warga juga mencari air di sekitar sungai dan mencari rembesan air di dinding jurang. "Airnya keruh," katanya.

Suyem warga Dusun Plampang III mengaku harus berjalan hingga setengah kilometer untuk mencari air karena sumur bor dan tandon air belum berjalan secara normal. Selain itu air yang ia dapatkan juga tidak dalam kondisi bersih. "Satu jam sekali lihat sumur agar tidak kalah dengan tetangga," katanya sambil tersenyum.