UNY Miliki Perpustakaan Digital Terintegrasi

Menristekdikti Mohamad Nasir meninjau salah satu ruang komputer di Gedung Digital Library UNY, Jumat (14/7/2018). - IST/Humas UNY
14 Juli 2018 10:10 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Menristekdikti Mohamad Nasir menyerukan kepada seluruh kampus agar segera beralih dari perpustakaan manual menuju digital seiring perkembangan teknologi.

Meski saat ini sudah banyak yang mengoperasikan e-library namun belum ada yang bisa terintegrasi selain di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Hal itu disampaikan dalam peresmian Digital Library di UNY, Jumat (14/7/2018).

Menristekdikti Profesor Mohamad Nasir menjelaskan perpustakaan manual harus berubah dengan digitalisasi agar tidak ketinggalan pengguna. Mengingat di era saat ini, pengunjung tidak harus datang ke perpustakaan untuk mendapatkan layanan namun cukup melalui ponsel.
 
"Contohnya dengan ponsel ini, saya sudah merasa berada di perpustakaan, apakah saya harus datang ke perpustakan? Enggak, tetapi bisa kapan saja, di mana saja saya bisa seperti berada di perpustakaan," kata dia di UNY, Jumat (14/7/2018).

Kementerian mengapresiasi UNY yang sudah memiliki perpustakaan digital. Ia menyarankan sisa-sisa manuskrip lama harus segera digitalisasi agar bisa diakses lebih luas. Nasir mengatakan hampir sebagian besar kampus sudah memiliki perpustakaan dengan model digital, namun yang sudah terintegrasi antarperguruan tinggi, fakultas dan prodi, sementara hanya di UNY.

Ia mengakui tidak mudah mengintegrasi perpustakaan digital karena banyak kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur dan pendanaan. Jika kampus lain ingin membangun perpustakaan digital yang terintegrasi, disarankan jangan sekadar gedungnya saja namun konten justru menjadi paling penting.

"Maka saya sangat mendukung, UNY punya digital library yang mengintegrasikan semua. Mungkin UNY bisa kerja sama dengan UGM, yang selama ini mahasiswa kesulitan akses e- library di sini misalnya, sehingga bisa memudahkan," kata dia.

Guru Besar Undip ini mengklaim dengan perpustakaan digital akan lebih efisien. Ia mencontohkan ketika harus berlangganan Science Direct yang berisi beragam artikel jurnal yang harganya bisa mencapai Rp1,4 miliar per tahun untuk satu pengguna, jika dibagikan menggunakan kelengkapan teknologi, dana bisa ditekan hingga Rp100 juta.

Saat ini Indonesia telah memiliki Indonesia Research Education Network (IDREN) yang berisi beragam artikel jurnal dan hasil penelitian dapat diakses seluruh Indonesia. "Ke depan Pemerintah Pusat yang berlangganan sehingga bisa dibagikan ke seluruh Indonesia, kalau sudah ada infrastruktur," kata dia.

Rektor UNY Profesor Sutrisna Wibawa mengatakan gedung perpustakaan digital dibangun dengan dana pendamping IDB sebesar Rp28,8 miliar, untuk pengadaan alat Rp17,2 miliar dan furnitur Rp2,4 miliar.

Tujuan perpustakaan digital untuk memperkuat peluang komunikasi dan kolaborasi antarinstitusi pendidikan tinggi sekaligus memperluas kesempatan akses pustaka digital. Perpustakaan digital memberi peluang akses lebih besar pada koleksi yang sulit disimpan atau diakses karena keterbatasan ruang penyimpanan.

"Dosen dan mahasiswa akan lebih mudah mengakses jurnal baik nasional dan internasional. Diharapkan fasilitas ini dapat meningkatkan karya ilmiah dan penelitian dosen, mahasiswa," jelas Rektor.