Alami Gangguan Jiwa, Warga Gunungkidul Dievakuasi Tim Antipasung

Maryani (kaus hijau) saat dibawa keluarga untuk memasuki mobil ambulans di Dusun Kedungpoh Kulon, Desa Kedungpoh, Kecamatan Ngliar, Senin (16/7/2018). Ambulan itulah yang akan mengantarkan Maryanu untuk berobat ke rumah sakit jiwa Grhasia, Sleman. - Ist
17 Juli 2018 00:50 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Dinas Sosial DIY melalui tim antipasung DIY mengevakuasi salah seorang warga yang merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Dusun Kedungpoh Kulon, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, Senin (16/7/2018).

Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos Gunungkidul yang juga menjadi bagian dari tim antipasung DIY, Winarto mengatakan tujuan dari evakuasi ini adalah untuk memberi pelayanan rehabilitasi bagi ODGJ secara lebih baik. Nantinya yang bersangkutan akan dibawa ke rumah sakit jiwa Grhasia, Kecamatan Pakem, Sleman.

ODGJ juga akan mendapat pembinaan di balai rehabilitasi sosial bina karya dan bina laras (RSBKL) Yogyakarta untuk menyalurkan potensinya, sehingga mampu bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat. "Jika sudah membaik baru akan dikembalikan ke keluarga," Kata Winarto, Senin.

Dia mengatakan evakuasi di Nglipar ini berjalan dengan lancar tanpa kendala. ODGJ dan pihak keluarga mau kooperatif sehingga tidak perlu waktu lama untuk memindahkan. Adapun evakuasi kali ini adalah yang kedua selama 2018. Sebelumnya evakuasi serupa dari Dinsos Gunungkidul dilakukan di wilayah Purwodadi, Tepus.

"Beberapa evakuasi yang lalu sempat terkendala, baik dari pihak keluarga maupun ODGJ. Mereka [keluarga] enggan menyerahkan anggota keluarga yang gangguan jiwa untuk dirawat pihak kami, adapula ODGJ yang justru susah ditenangkan dan tidak mau dibawa," beber Winarto.

Adapun ODGJ yang dievakuasi hari itu adalah Maryani, 32. Menurut penuturan ayah Maryani, Tukiyo, anak pertamanya ini sudah mengalami gangguan kejiwaan sejak 15 tahun terakhir. Selama itulah Maryani hanya mengurung diri di kamar. Lantaran tidak membahayakan, dia hanya dibiarkan tanpa perlu dipasung. "Segala bentuk aktivitasnya dihabiskan di kamar, kalau keluar ya hanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri," kata Tukiyo.

Tukiyo mengungkapkan anaknya terindikasi gangguan jiwa sejak pulang dari bekerja di perantauan. Perangai Maryani, kata Tukiyo berubah jadi lebih pendiam. Kemungkinan anaknya tersebut mengalami depresi lantaran istri Tukiyo atau ibu dari Maryani meninggal dunia.

Dikatakan Tukiyo, Maryani sudah beberapa kali melakukan pengobatan baik secara medis dan alternatif. Mulai dari klinik di Jogja hingga pengobatan alternatif di Solo sampai dengan Sukabumi, Jawa barat. "Mulai medis sampai alternatif tapi tidak berhasil. Ke pengobatan alternatif di Sleman sampai 13 kali berobat juga hasilnya sama saja," ujarnya.

Adanya bantuan dari pemerintah ini membuka harapan Tukiyo sekeluarga untuk kesembuhan Maryani. Sebab Bapak tiga anak ini sudah pasrah dengan keadaan. Pekerjaanya yang hanya sebagai penjual lotis di Bantul tidak mencukupi lagi untuk biaya pengobatan.

"Kami juga tidak memiliki kartu kesehatan dan BPJS," ucapnya.

Ad Tokopedia