Cuaca Mendukung, Petani Tembakau di Kalasan Bersiap Panen

Seorang petani tembakau di Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Suparjo, merawat tanaman tembakau miliknya, Minggu (12/8 - 2018).Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
12 Agustus 2018 20:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN—Petani tembakau di Kecamatan Kalasan bersiap panen pada akhir bulan ini. Cuaca yang mendukung membuat tanaman tembakau berkembang dengan baik. Selama beberapa tahun sebelumnya, petani tekor lantaran gangguan cuaca.

Petani tembakau Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Suparjo, mengatakan selama beberapa tahun terakhir tanaman tembakau di Kalasan tidak bisa maksimal. "Tahun lalu banyak yang gagal karena sering turun hujan," katanya, Minggu (12/8/2018).

Tahun lalu harga jual tembakau rajangan hanya mencapai Rp25.000 per kilogram. Hujan yang masih turun saat musim kemarau membuat kualitas tembakau menjadi jelek. "Harga daun tembakau yang bagus biasanya Rp90.000 sampai Rp100.000, tetapi selama tiga tahun terakhir kami selalu rugi," katanya. Harga jual rendah tersebut disebabkan kualitas daun tembakau yang jelek. Tengkulak dari Magelang membeli tembakau dengan kadar air tinggi dengan harga yang rendah.

Suparjo mengatakan, kadar air yang tinggi membuat nikotin di tembakau menjadi berkurang. Menurutnya, tahun ini hanya sekitar 15% petani di Kalasan yang berani menanam tembakau. "Hanya petani yang punya modal yang berani menanam tembakau, karena berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang selalu gagal," ujar Suparjo.

Suparjo mempunyai lahan tanaman tembakau seluas tiga hektare. Dalam sekali panen, ia bisa menghasilkan 15 kuintal tembakau rajangan. Biaya produksi yang ia keluarkan bisa sampai Rp50 juta untuk sekali musim tanam. Biaya produksi tersebut dikeluarkan di antaranya untuk bibit, biaya perajangan dan proses lainnya.

Ia berharap di musim kemarau tahun ini tidak terlalu sering turun hujan dibanding tahun lalu. Ia menanam tembakau mulai Juni 2018, dan diperkirakan akhir Agustus tembakau sudah bisa dipanen. "Ketika hasilnya bagus harga bisa sampai Rp150.000 per kilogram," katanya.

Pengurus Gapoktan Taman Manunggal Lestari, Desa Taman Martani, Kecamatan Kalasan, Untung Hariyono, mengatakan selama tiga tahun terakhir harga jual tembakau kurang dari Rp30.000 per kilogram dan membuat petani rugi. Untung mengatakan untuk menghasilkan harga jual tembakau yang tinggi, petani harus menghasilkan kualitas tembakau yang baik.

"Untuk mendapatkan kualitas tembakau yang kualitas lahan juga harus bagus. Masalahnya, harga sewa lahan dengan kualitas tanah yang bagus juga mahal, bisa sampai Rp1,5 juta per 1.000 meter persegi," ujar Untung. Dengan biaya produksi yang mahal dan hasil yang belum tentu bagus, petani lebih memilih menanam jenis tanaman lainnya. "Tahun lalu ketika harga tembakau anjlok, petani memilih menanam jagung," kata Untung.

Ad Tokopedia