Pengibaran Bendera di Bukit Klangon Mengenang Pertempuran di Lereng Merapi

Suasana upacara kemerdekaan di Bukit Klangon, Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Cangkringan pada Kamis (16/8/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
16 Agustus 2018 22:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN-- Warga lereng Merapi di Desa Glagaharjo, TNI, Polri, dan relawan mengikuti upacara di Bukit Klangon, Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Cangkringan pada Kamis (16/8/2018). Tidak hanya upacara untuk memperingati kemerdekaan, upacara juga dilakukan untuk memperingati peristiwa bersejarah melawan penjajah di lereng Merapi.

Komandan Kodim 0732/Sleman, Letkol (Inf) Diantoro yang juga bertugas sebagai pembina upacara mengatakan upacara tersebut diadakan dalam rangka menyambut peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73. Selain sebagai peringatan kemerdekaan, Diantoro mengatakan, alasan memilih Bukit Klangon yaitu karena tempat tersebut mempunyai makna sejarah.

"Di wilayah Cangkringan pernah terjadi peristiwa bersejarah. Saat 1949, di Cangkringan terjadi pertempuran melawan Belanda," kata Diantoro pada Kamis (13/8/2018).

Bukit Klangon berada di Dusun Kalitengah Lor yang merupakan dusun paling ujung dan paling dekat dengan puncak Gunung Merapi, jaraknya sekitar 4 kilometer.

Diantoro mengatakan pada 1949 terjadi penyerbuan yang dilakukan oleh tentara Belanda ke wilayah Cangkringan. "Saat itu pasukan Belanda membakari rumah-rumah penduduk, yang jadi korban yaitu Kepala Desa Argomulyo Suharjo dan Cariknya Sukarman. Setelah ditangkap lalu ditembak di persawahan," kata Diantoro.

Setelahnya pasukan laskar rakyat berhasil melawan tentara Belanda yang akhirnya mundur ke Kaliurang. Diantoro mengatakan saat itu meskipun melawan tentara Belanda yang secara persenjataan lebih unggul, namun keberanian melawan penjajah ditunjukan oleh warga Cangkringan dan laskar rakyat.

Sementara di Sleman selain Cangkringan, ada beberapa wilayah lainnya yang jadi tempat pertempuran diantaranya Sambilegi Maguwoharjo, Prambanan, Ngaglik, Tempel, Minggir, Mlati, Turi, Seyegan, Berbah, Pakem, dan Gamping.

Selain karena peristiwa bersejarah Diantoro mengatakan pada peringatan kemerdekaan di lereng Merapi, bisa lebih memaknai Gunung Merapi sebagai gunung yang mempunyai nilai kebesaran. "Merapi tidak ingkar janji, Gunung Merapi yang merupakan gunung aktif itu harus bisa menjadikan makna semangat dalam kemerdekaan," ujarnya.

Peserta upacara yang juga sebagai Mahasiswa STIKES Wira Husada Kansas Ngedo mengaku baru pertama kali merasakan pengalaman upacara di lereng gunung. Ia mengatakan makna yang bisa diambil dari peringatan kemerdekaan tersebut yaitu jiwa semangat sebagai pemuda.

"Kemerdekaan ini harus diisi dan dimaknai, pemuda harus memupuk sikap toleransi, dan yang penting totalitas juangnya ada," kata Kansas.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia