Bahas BPJS, RS PKU Muhammadiyah Jogja Gelar Pertemuan dengan FKTP

Seorang pembicara memberikan materi mengenai ilmu bedah kepala leher saat acara pertemuan yang diselenggarakan RS PKU Muhammadiyah Jogja, Kamis (16/8/2018). - Harian Jogja/ I Ketut Sawitra Mustika
17 Agustus 2018 00:50 WIB I Ketut Sawitra Mustika Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jogja menyelenggarakan acara pertemuan dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan RS sekunder se-DIY, Kamis (16/8/2018). Tujuan pertemuan ini untuk menginformasikan mengenai pelayanan RS PKU Muhammadiyah Jogja seiring adanya aturan rujukan berjenjang.

"Kegiatan ini bukan yang pertama kali, sebenarnya ini kegiatan rutin. Tapi pertemuan ini khusus karena regulasi BPJS yang selalu dinamis karena selalu ada perubahan. Di antaranya sekarang rujukan berjenjang berdasarkan kompetensi di rumah sakit sehingga sebagai rumah sakit rujukan kami membuat layanan baru yang sesuai dengan standar rumah sakit tipe b," jelas Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Jogja M. Komarudin di sela-sela pertemuan yang digelar di RS PKU Muhammadiyah Gamping itu.

Karena adanya layanan baru itulah, kata Komarudin, RS PKU Muhammadiyah Jogja perlu melakukan komunikasi dengan FKTP dan rumah sakit sekunder di DIY. Salah satu layanan terbaru RS itu adalah bedah kepala dan leher yang terkena tumor.

"Kami juga ada kemoterapi sama seperti di Sardjito. Semua rumah sakit sama. Misalnya, kemoterapi bodi care kita mengikuti. Di PKU Gamping, karena ini gathering dua rumah sakit, juga ada pelayanan jantung terpadu," jelasnya.

Dengan adanya aturan rujukan berjenjang berdasarkan kompetensi, kata Komarudin, RS PKU Jogja dituntut untuk terus berinovasi. Sebab, jika di RS tipe c ada fasilitas yang cukup dan dokter yang mumpuni, maka pasien tidak akan dirujuk ke RS tipe B.

Ia menyatakan, aturan rujukan berjenjang berdasarkan kompetensi itu membuat jumlah pasien rawat jalan menurun. Penurunan pasien di RS PKU Muhammadiyah Jogja sejak Juni mencapai 20%.

Meski ada penurunan pasien, sambung Komarudin, pendapatan RS PKU Muhammadiyah Jogja tidak terlalu berpengaruh, karena pihak manajemen menghadirkan berbagai layanan inovatif.

Ia mencontohkan, dulu RS PKU Muhammadiyah Jogja menghadapi keterbatasan fasilitas ICU, tapi saat ini situasi sudah berbeda, karena usaha melengkapi ICU dengan ventilator terus dilakukan. Sedangkan RS lainnya tidak melakukan hal yang sama.

"Sekarang kami punya delapan [ventilator]. Dulu hanya dua. Saya rasakan betul dampaknya. PKU kan tidak pernah menolak pasien. Kami terima rujukan dari mana pun yang memerlukan ventilator. Kalau dulu mau rujuk ke RS lain penuh semua tapi pasien sudah terlanjur diterima. Sedangkan fasilitas tidak punya. Jadi sedih karema itu. Dengan inovasi itu, pendapatan tidak berkurang," tuturnya.