Jambu Mete, Sumber Penghidupan Warga Rejosari Gunungkidul

Jamilah,49, menunjukan mete yang belum dikelupas di rumahnya di Dusun Josari, Desa Rejosari, Kecamatan Semin, Rabu (15/8/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
17 Agustus 2018 07:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sebagian besar warga Desa Rejosari, Kecamatan Semin menjadi pembudidaya jambu mete. Keuntungan yang besar menjadi alasan warga untuk serius menekuni usaha ini.

Ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) Mete Desa Rejosari, Suyono mengatakan dari 15 dusun yang ada di Desa Rejosari, sedikitnya 10 dusun masyarakatnya memiliki kebun jambu mete.

Hal ini membuat Desa Rejosari ditetapkan sebagai Blok Penghasil Tinggi (BPT) Jambu Mete oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) DIY pada 2013 lalu. Selain itu, pada beberapa wilayah dilaksanakan Sekolah Lapangan (SL) guna meningkatkan hasil para pembudidaya. Adapun luas keseluruhan lahan yang digunakan untuk kebun jambu mete sekitar 400 ha.

Suyono mengungkapkan kegiatan budidaya jambu mete di desa ini sudah berlangsung sejak 1970 yang kemudian diturunkan lintas generasi hingga bertahan sampai sekarang.

Bantuan dari pemerintah untuk menjaga eksistensi budidaya mete ini juga telah didapat mereka, mulai dari pemberian alat hingga pelatihan.

Terkait dengan harga, salah satu pembudidaya jambu mete dari Dusun Josari, Desa Rejosari, Jamilah, 49, mengungkapkan, jambu mete yang masih utuh dihargai Rp23.000 per kilogram. Harga tersebut akan melonjak jika mendekati hari besar keagamaan seperti Idul Fitri.

"Kemarin [saat Idul Fitri] bisa mencapai Rp32.000 per kilogram," kata Jamilah kepada Harianjogja.com, Rabu (15/8/2018).

Adapun untuk mete yang telah dikupas dan siap diolah dihargai Rp140.000 per kg di hari biasa. Sementara saat mendekati hari besar keagamaan harga bisa melonjak hingga Rp170.000-Rp180.000 per kg.

"Kalau pas Lebaran harganya memang melambung, soalnya banyak yang nyari," kata dia.

Tingginya harga jambu mete ini secara langsung mampu meningkatkan perekonomian keluarga Jamilah. Meski tidak menyebutkan omset per bulan atau tahun, Jamilah mengaku hasil dari penjualan jambu mete ini dia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah, merenovasi rumah, serta membeli kendaraan bermotor.

"Bisa dikatakan dari jambu mete ini saya hidup dan mampu mencukupi keluarga," ucapnya.

Namun meski begitu membudidayakan jambu mete tidaklah gampang. Sebab kendala yang akan dihadapi adalah dari serbuan hewan seperti tupai. Selain itu kondisi cuaca juga berpengaruh besar dalam kepastian panen jambu mete.

"Kalau pas musim hujan otomatis bunga yang terkena tetesan air hujan tidak mekar dan dipastikan gagal panen, itu yang kadang membuat kami susah," kata dia.

Kesulitan lainnya yakni jika mete sudah dikupas tapi belum hendak dijual maka perlu dirawat dengan baik agar tidak membusuk. Sebab kebiasaan para petani mete adalah menyimpan hasil panennya hingga harga tinggi.

"Biasanya kami simpan dulu sampai harga tinggi seperti saat lebaran, nah kalau dalam penyimpanan ini tidak baik maka sebelum dijual malah busuk," ujar Jamilah.

Dia menjelaskan setiap dua bulan sekali mete yang disimpan harus dijemur supaya tetap bagus kualitasnya. Peletakan kacang mete juga jangan langsung di lantai, harus memakai alas. "Jemurnya langsung di bawah terik matahari," kata dia.