JISP 2018 Perkuat Branding Jogja Kota Budaya

Special performance Kazco Takemoto seniman asal Jepang dalam pembukaan JISP 2018 di Lapangan Graha Saba UGM. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
12 September 2018 22:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Jogja International Street Performance (JISP) merupakan perhelatan seni pertunjukan yang digelar Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Jaran Production. Gelaran tahunan ini digelar sejak 2010 lalu itu terus merangkul dan melibatkan seniman-seniman dari berbagai negara.

Kegiatan ini menjadi ajang kreatif kesenian alternatif bagi seniman seni pertunjukan, baik seniman kontemporer dan tradisional untuk bebas berkreasi menunjukkan kreatifitasnya. "JISP digelar untuk menjadi ruang silaturahmi budaya antar bangsa. Iklim kesenian di DIY sendiri tumbuh dengan pesat dan kekayaan seni budaya terawat dengan baik," kata Sekda Pemda DIY Gatot Saptadi saat membuka JISP di Grha Saba Pramana UGM, Selasa (11/9/2018).

Mengangkat tema #7 Jogja The Dancing City dengan tagline Jogja Jejogedan, JISP 2018 digelar sejak Selasa (11/9) hingga Rabu (12/9) di sejumlah titik. Dalam kali ketujuh penyelenggaraannya, panggung jalanan JISP digelar di seputaran bundaran UGM dan Grha Sabha Pramana dan juga Lapangan Pancasila UGM. Pilihan ruang publik tersebut berupaya mendekatkan masyarakat pada kegiatan kesenian dan meningkatkan apresiasi masyarakat dalam berbagai segmen.

Ada dua jenis karya yang ditampilkan mulai public space performance hingga on stage performance. Selain itu, ada pula dua pertunjukan spesial yang akan digelar di Taman Budaya Yogyakarta. Yakni, kolaborasi antara DINYOS Dance Company (Jepang) dengan Bimo Dance Theatre (Indonesia) dan pertunjukan kolaborasi Leine Roebana (Belanda) dengan seniman-seniman Indonesia.

JISP 2018 diikuti oleh seniman-seniman seni pertunjukan terutama musik dan tari dari manca negara, diantaranya Kazco Takemoto (Jepang), Stefano Fardelli (Italia), Rodrigo Parejo (Spanyol), Potchanan Pantham (Thailand), dan Angela Vela (Mexico). JISP 2018 juga memperjelas kerjasama dalam menjadi bagian dari Dancing Cities Network yang berpusat di Barcelona yang sudah diikuti puluhan Negara di Eropa dan Amerika Latin.

Sejumlah seniman dari berbagai daerah di luar DIY yang terlibat di antaranya, Sanggar Seruni dan Sanggar Dayang Molek (Bangka Barat), Nani Topeng Losari (Sanggar Purwa Kencana, Cirebon ), Ni Dance (Purworejo), Sanggar Shaka Budaya (Wonogiri), Lena Guslina (Bandung), Wangak Maumere (NTT) dan Sanggar Melanesian (Papua).

Dari Jogja, perlehatan ini diikuti Kiki Rahmatika, Kerincing Manis, Fetri Rachmawati, Artha Dance, Sanggar Anak Tembi, Natya Laksita, Mila Art Dance, Total Perkusi, dan Bambini Body Movement.

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi menjelaskan JISP digelar juga untuk meningkatkan jumlah wisatawan ke DIY. Alasannya, kegiatan tersebut diikuti juga oleh seniman dari berbagai negara. Kehadiran para seniman luar negeri diharapkan menjadi corong promosi destinasi wisata Jogja di negara mereka, bahwa mereka sangat menikmati keunikan atmosfer di Jogja.

Jika pada tahun 2017 jumlah kunjungan wisata di DIY mencapai 398.000 diharapkan pada 2018 bisa naik antara 12% hingga 15% atau sekitar 450.000 wisatawan. "Kami optimistis dengan kegiatan promosi beberapa event pameran kegiatan seni budaya seperti JISP ini akan mampu mensupport pencapaian pada target 450.000 di 2018," katanya.

Panitia JISP dari Jaran Production Iqbal menambahkan event JISP 2018 akan semakin memperkuat branding Jogja sebagai kota budaya. Para seniman luar negeri gang hadir juga diharapkan menyampaikan pandangan dan pesan yang tentunya opini positif tentang Jogja dan JISP. Sehingga harapannya opini positif tentang Jogja yang dibangun oleh seniman luar negeri itu dapat diikuti oleh para pengikutnya. 

"Di kawasan UGM itu kami menyediakan beberapa panggung seperti selatan dan barat area lapangan pancasila, nanti ada lima titik yang berlangsung pada sore hari," ujarnya.