Pemberantasan Suap di Daerah Masih Minim

Penyidik KPK Novel Baswedan didampingi istrinya Rina Emilda. - Antara Foto/Muhammad Iqbal
20 September 2018 06:10 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemberantasan suap di daerah masih minim dan lambat. Padahal suap adalah induk korupsi. Masyarakat juga semakin tidak peduli dengan kejahatan yang ditimbulkan oleh suap. Hal ini dibuktikan dengan keengganan melaporkan sebuah penyuapan ke pihak berwajib.

Hal tersebut disampaikan Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat menjadi pembicara dalam acara Diskusi Generasi Muda Antikorupsi di Auditorium Kampus Dua Universitas Atma Jaya Jogja (UAJY), Rabu (19/9/2018).

"Terkait suap, bisa dilihat dari publikasi, penegakan hukum terhadap suap tidak pernah dilakukan di daerah. Padahal induk korupsi adalah suap. Bahkan, sudah ada delik suap yang berhubungan dengan swasta, yakni UU No.11/1980 tentang Tindak Pidana Suap, tetapi tak pernah dipergunakan. Ini indikasi perbuatan melawan korupsi sangat lambat. Sangat dihambat," jelas Novel.

Hal tersebut, kata Novel, menjadi sesuatu yang penting untuk dipahami. Namun, masalahnya, saat ini masyarakat semakin enggan melaporkan suap. Warga dinilai semakin masa bodoh. Ia tidak memungkiri, laporan masyarakat ke KPK masih banyak. Namun, hal yang sama tidak terjadi untuk level kelurahan atau sektor pelayanan di tingkat bawah. "Sangat sedikit yang melaporkan," kata Novel.

Novel mengungkapkan selama ini korupsi hanya dipahami sebagai pencurian uang negara. Padahal, korupsi lebih dari itu. "Misalnya, di Indonesia banyak bahan pokok diimpor. Semua bahan makanan ada mafianya. Harga dibuat oleh mafia. Efeknya semakin langsung."

Atas kiprahnya dalam memberantas korupsi, Novel mengaku terus mendapatkan ancaman. Jenis ancamannya beragam. Bahkan, saking seringnya mendapat ancaman, ia sampai bosan sendiri.

Sebelumnya, Novel pernah disiram cairan yang diduga air keras oleh orang tak dikenal di dekat Masjid Jami Al Ihsan pada 11 April 2017. Saat itu, Novel baru saja selesai menunaikan salat Subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya sekitar pukul 05.10 WIB. Akibat penyerangan ini, kedua mata Novel terluka. Pelaku penyerangan hingga kini tetap belum ditangkap.

Novel mengatakan yang menjadi masalah bukanlah ancaman yang diterima, tetapi lebih kepada ketidakhadiran negara. Masalahnya negara di mana sekarang? Itu paling penting. Saya sampai pernah bilang sudahlah, kalau memang perkara saya enggak mau diungkap enggak apa-apa. Saya juga sudah maafkan. Saya cuma bilang penyerangan kepada orang-orang KPK itu diungkap. Itu banyak terjadi."

Novel menjamin dirinya tidak akan mundur dalam memberantas korupsi di Indonesia meski terus mendapat ancaman. Menurut dia, tidak semua pegawai KPK akan terus berdiri tegak seperti dirinya jika terus menerus menerima teror.

"Kalau tidak diungkap apa iya negara tidak ingin melindungi? Padahal itu kewajiban negara. Negara jangan sampai tidak hadir untuk hal-hal mendasar seperti ini. Saya harap negara hadir dan Presiden punya tanggung jawab untuk itu. Namun bicara begini susah karena lagi pemilu. Jadi repot," ujar Novel.