Jelang Pemilu, Jangan Ada Atribut Partai di Malioboro

Suasana di sekitar kawasan pertokoan Malioboro, Sabtu (7/7 - 2018). Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
20 September 2018 19:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Para pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro diimbau tidak terprovokasi hoaks atau informasi yang tidak jelas seputar Malioboro. Upaya tersebut dilakukan salah satunya untuk mensukseskan Pemilu 2019.

Kanit A Subdit 2 Polda DIY AKP Puji Antara mengatakan Malioboro sebagai ikon Kota Jogja harus bisa dijaga tetap aman, damai dan sejuk. Oleh karenanya, para PKL di Malioboro diminta tidak memasang atribut politik.

"Selama Pemilu nanti akan terjadi perbedaan pendapat maupun pilihan politik, tapi jangan sampai menimbulkan perselisihan. Perbedaan pasti ada tapi jangan sampai jotos-jotosan," ujar di sela deklarasi PKL Malioboro Ikut Serta Mensukseskan Pemilu 2019, Kamis (20/9/2018).

Deklarasi tersebut diikuti perwakilan PKL dari Paguyuban Tridharma dan Paguyuban Pelukis, Perajin dan PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni). Harapan yang sama juga disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Ekwanto. "Pelaku usaha di Malioboro dimintanya tidak terpancing hoaks terkait Malioboro," katanya.

Dia mencontohkan soal isu jual beli lapak PKL beberapa waktu lalu. Menurutnya, isu tersebut sengaja diembuskan untuk memanaskan suasana Malioboro. "Kami minta para PKL mengikuti informasi yang bisa dipercaya, misalnya dari pemerintah," katanya.

Ketua Pemalni Slamet Santoso juga mengakui jika isu tersebut sempat menghangatkan suasana di Malioboro. Slamet menambahkan pada malam Selasa Wage 16 Oktober mendatang, PKL akan mengadakan kegiatan Malioboro Berdzikir agar kawasan tersebut kembali sejuk. "Malioboro berdzikir, itu akan di isi berdoa untuk kesejukan dan kedamaian di Malioboro," jelasnya