STTNas Kembangkan Perajin Tahu di Kulonprogo

STTNas. - Ist
25 September 2018 22:11 WIB Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Globalisasi mengakibatkan perubahan gaya hidup di masyarakat, bahkan hampir di seluruh aspek kehidupan, salah satunya dalam hal pangan. Makanan modern dan kekinian yang banyak beredar mengakibat semakin tersingkirnya produksi makanan tradisional asli Indonesia, salah satunya tahu.

Banyak beredar di masyarakat bahwa proses pembuatan tahu yang mayoritas diproduksi oleh perajin rumahan tidak higienis menjadi salah satu penyebab UMKM pembuatan tahu sulit untuk berkembang.

Kepala Dinas Usaha Kecil Menengah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Irwandi, mengatakan higienitas menjadi salah satu aspek penting yang paling disorot dari industri dan UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman.

Dalam menghadapi permasalahan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat dari STTNas yang terdiri dari Daru Sugati, Ratna Kartikasari, dan Fauziyah Nur Jamal menginisiasi terlaksananya Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Industri Pembuatan Tahu di Desa Tuksono, Sentolo, Kulonprogo, yang didanai oleh Kementerian Ristekdikti melalui Program Pengabdian Masyarakat “Skema Program Kemitraan Masyarakat” Tahun Pelaksanaan 2018.

"Program kemitraan ini dirancang untuk secara bertahap dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas dan kuantitas dalam aspek produksi tahu, manajemen, dan pemasaran tahu. Terdapat dua mitra yang bergabung dalam Program Kemitraan Masyarakat ini yaitu Mitra I adalah pengusaha tahu yang dipimpin oleh Nagdul Catur di Dusun Paten dan Mitra II, pengusaha tahu yang dipimpin oleh Supriyono di Dusun Bulak. Kedua mitra tersebut sama-sama berlokasi di Desa Tuksono," kata Daru Sugati, Pengajar Teknik Mesin Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNas), Senin (24/9/2018).

Berdasarkan dari hasil survei dan identifikasi masalah yang telah dilakukan, perbaikan aspek produksi dan pemasaran menjadi program utama yang akan dilaksanakan pada Mitra I, sedangkan untuk Mitra II akan dilaksanakan program perbaikan aspek manajemen dan pemasaran. Program aspek peningkatan produksi meliputi penggantian alat memasak bubur tahu yang tadinya berbahan drum bekas diganti menjadi steam boiler dari stainless steel. Program pemasaran akan dilakukan branding, serta perbaikan cara mengemas dan teknik promosi.

Kini, program pengabdian sudah berhasil dijalankan dan menghasilkan output berupa steam boiler yang higienis dan berbahan bakar niomasa. Adapun keunggulan dari steam boiler adalah bahan bakar yang murah dan mudah dicari (seperti ranting, sekam, limbah gergaji, sabut kelapa) serta dilengkapi dengan peralatan sistem keamanan.

Adapun dalam aspek manajemen dan pemasaran, solusi yang ditawarkan adalah pemberian analisis harga jual produk serta pembuatan kemasan terhadap produk tahu, melakukan penjajakan pada pasar nontradisional, dan merintis UMKM Corner di Perguruan Tinggi pengusul.