Seminar Nasional di UKDW Ungkap Dampak Buruk Perubahan Iklim yang Terjadi di Indonesia

Sejumlah pembicara memaparkan materi dalam seminar nasional mengenai dampak perubahan iklim yang digelar Fakultas Bioteknologi UKDW . - Ist
26 September 2018 05:50 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Seminar nasional dengan tema Climate Change : Global Threat and How to Solve Them digelar sebagai bentuk keprihatinan dan partisipasi Fakultas Bioteknologi UKDW untuk berkontribusi pada upaya mitigasi dan penyusunan startegi adaptasi perubahan iklim.

Acara yang dibuka di Auditorium Koinonia UKDW itu digelar, Sabtu, (22/9/2018). Ketua Panitia Seminar Lucky O. Prakoso mengatakan, kegiatan ini diikuti lebih dari 230 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan berasal dari berbagai perguruan tinggi.

"Pelaksanaan seminar bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, kepedulian serta tumbuhnya gerakan di kalangan mahasiswa untuk secara kolaboratif terlibat dalam program mitigasi perubahan iklim," kata Lucky O. Prakoso melalui rilis, Selasa (25/9/2018).

Dalam seminar nasional perubahan iklim ini, dihadirkan pembicara kunci antara lain, Wahyudi Wardoyo, Senior Advisor The Nature Conrservancy Indonesia, sekaligus penasihat senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dalam paparannya Wahyudi Wardoyo menyatakan perubahan iklim sudah menjadi keniscayaan, Indonesia termasuk negara yang sangat rentan (vulnerable).

"Indonesia sebagai negara megabiodiversity sangat merasakan dampak nyata perubahan iklim seperti meningkatnya risiko kepunahan banyak spesies baik secara langsung maupun tidak langsung seperti kerusakan habitat, kebakaran dll, terjdinya perubahan biologi, ekologi, perilaku spesies," kata Wahyudi.

Beberapa penelitian telah melaporkan, perubahan iklim memperpendek siklus El-Nino, sehingga mempengaruhi masa reproduksi orang utan.

Perubahan kualitas habitat dan sumber makanan pada akhirnya mengakibatkan berkurangnya populasi orang utan di TN Betung Keruhun dan Danau Sentarum, Kalimantan Barat.

Oleh kerena itu Indonesia berkomitmen dalam upaya menekan kenaikan suhu global kurang dari dua derajat celsius yang ditunjukan dalam penandatanganan Paris Agreement. " Serta telah menyusun dan menyerahkan Nationally Determined Contributions [NDC] untuk berkomitmen menurunkan emisi GHG sebesar 29 persen dengan sumber daya sendiri dan 39 persen bila mana ada kerja sama dengan pihak luar di tahun 2030," ujar dia.

Adapun untuk membahas dampak perubahan iklim, tantangan dan startegi antisipasinya baik di bidang kesehatan, lingkungan dan keamanan pangan serta sektor industri dihadirkan narasumber antara lain Prof Wayan T. Artama dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM sebagai ahli di bidang kesehatan, Prof Budi Widianarko dari Fakultas Teknologi Pangan UNIKA Sugijapranata sebagai ahli lingkungan dan pangan, serta Adi Supriyanto selaku Corporate Affair PT Multi Bintang.

Menurut Prof Wayan T. Artama, perubahan iklim bertanggung jawab pada terjadinya degradasi kualitas lingkungan, mengganggu ketersediaan air bersih, buruhknya kualitas udara yang besar sekali pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.

Hal lain perubahan iklim jiga berpengaruh terhadap biologi, ekologi dan distribusi vektor penyakit, meningaktkan risiko terjadinya penyebaran penyakit malaria, dengue, leishmaniasis dan filariasis.

"Bioteknologi punya peran penting dalam upaya untuk mitigasi pengaruh perubahan iklim terhadap penyebaran penyakit, baik melalui deteksi cepat pathogen secara molekuler, melakukan identifikasi faktor risiko, meningkatkan kapasitas respons [meningkatkan status kesehatan, fasilitas, sdm dll] serta mereduksi faktor risiko," ujar Wayan T. Artama.

Untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan diperlukan kolaborasi dan sinergi antar berbagai multidisiplin, sektor duna mengatasi permasalahan secara holistik dan integratif.

Prof Budi Widianarko dari Fakultas Teknologi Pangan UNIKA Sugijapranata menyampaikan perubahan iklim besar pengaruhnya terhadap penurunan dan stabilitas produksi pangan.

"Akibat siklon, banjir, kekeringang, hujan anging dan es, penurunanan keanekargaman hayati sehingga akan berpengaruh besar pada pasokan pangan," jelas Budi Widianarko.

Sampai saat ini hanya terdapat 12 jenis tanaman pangan dan 14 jenis hewan budidaya merupakan basis pangan dunia.

Perubahan iklim juga akan berpengaruh pada meningkatnya risiko keamanan pangan seperti meningkatnya risiko salmonellosis, ekpansi risiko kontaminasi mycotoxin, peningkatan penggunaan pestisida dan peningkatan resiko keamanana hasil laut (kontaminasi kimia dan mikrobiologis).

Di bidang industri, khususnya industri minuman, perubahan iklim berpengaruh besar pada keberlanjutan pasokan air baik dalam hal kualitas maupun kuantitas hal tersebut disampaikanAdi Supriyanto selaku Corporate Affair PT Multi Bintang.

Oleh karena itu sebagai langkah antisipasi dilakukan berbagai tndakan seperti efisiensi penggunaan air, pemanfatan air hujan serta perlindungan dan konservasi sumber air dengan program penanaman pohon bambu dan tanaman konservasi lainnya dengan melibatkan pemda, masyarakat dan sekolah-sekolah.

Dalam penutupan seminar, Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW Kisworo menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi dan kerja sama semua pihak dalam pelaksanaan seminar dan berharap setelah seminar ini tumbuh komitmen pada generasi muda khususnya mahasiswa untuk secara proaktif terlibat dalam berbagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. (*)