Duh...Perajin Batik di Kulonprogo Masih Ada yang Bandel, Limbah Dibuang Sembarangan

Ilustrasi batik. - Bisnis Indonesia/Rachman
10 Oktober 2018 20:50 WIB I Ketut Sawitra Mustika Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Perajin batik di Kulonprogo belum memiliki kepatuhan yang seragam dalam mengolah limbah. Beberapa di antaranya enggan mengolah sisa proses produksi dan membuangnya secara sembarangan. Padahal, limbah batik bisa mempengaruhi kesuburan tanah.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan Kulonprogo Dewantoro mengatakan, pengolahan limbah batik sudah diusahakan sejak 2014 silam. Ketika itu Pemkab Kulonprogo, dengan didukung Bank Indonesia, memberikan alat pengolahan limbah batik kepada 14 industri kecil dan menengah (IKM).

"Memang beberapa tahun mereka kelihatannya enggak konsisten. Ada yang masih mengolah [limbah] tapi ada yang setengah-setengah. PR [pekerjaan rumah] kami yang setengah-setengah ini," kata Dewantoro saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (10/10/2018).

Alat pengolahan limbah batik itu, kata Dewantoro, menggunakan teknologi manual. Bak penampungan limbah diberi penyaring yang berasal dari benda-benda seperti pasir, kapas, ijuk dan arang. Dari bak tersebut limbah di alirkan ke bak untuk dimurnikan dengan menggunakan kaporit dan tawas. Setelah itu limbah baru dibuang ke pembuangan terakhir, yang berlokasi di tanah milik pengerajin.

Dewantoro mengatakan, limbah yang dibuang sembarangan akan merusak unsur hara tanah. Keasaman tanah menjadi tidak bagus untuk ditanami tanaman. "Mereka ngebuangnya di tanah sendiri. Tapi kan enggak bagus. Ngawur itu."

Dinas Perdagangan Kulonprogo, ujarnya, sudah berusaha mengingatkan kembali para pengerajin mengenai komitmen yang dulu sudah pernah mereka buat, yakni akan selalu menjaga dan memperhitungkan kelestarian alam dalam upaya pembuatan batik.

"Namanya teman-teman pengerajin ya, mohon maaf, SDM-nya masih begitu. Kalau pernah ke Ngentakrejo dan Gulurejo, seperti itulah mindsetnya. PR-nya adalah mengubah mindset mereka supaya benar-benar memperhatikan lingkungan," jelasnya.

Dewantoro mengatakan, bulan depan Dinas Perdagangan dan Dinas Lingkungan Hidup akan kembali mendatangi para pengerajin untuk memberikan edukasi. Menurutnya, upaya penyedaran harus terus dilakukan. "Enggak boleh bosan mengingatkan mereka."