Tak Hanya Masalah Agama, Santri Diharapkan Merespon Masalah Masyarakat dan Negara

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (tengah)./Harian Jogja - Desi Suryanto
11 Oktober 2018 00:17 WIB Rahmat Jiwandono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Menteri Agama Lukman Saifuddin membuka Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pondok Pesantren Krapyak, Jogja, Rabu (10/10/2018). Acara reguler Muktamar Pemikiran Santri Nusantara ini pertama kali diadakan di Pondok Pesantren Krapyak.

Muktamar Pemikiran Santri Nusantara tujuannya menjadi ajang aktualisasi pemikiran para santri. Para santri adalah sebuah komunitas yang punya khas agar punya peran yang besar dalam memberikan manfaat, tidak hanya ponpes tetapi untuk semua.

Para santri diharapkan dapat merespon masalah tidak hanya keagamaan namun juga masalah masyarakat dan negara. Keberadaan pesantren dalam moderasi beragama dihadapkan dengan orang atau kelompok yang mempunyai paham ekstrim tentang agama.

“Islam yang diajarkan kepada kita adalah wajah yang wasatiyah [moderat] yang  senantiasa menjunjung tinggi nilai kebangsaan,” kata Lukman.

Muktamar yang diikuti oleh para pengasuh, pemikir, dan pemerhati pesantren se-Indonesia ini menjadi bagian dari kegiatan Hari Santri 2018 yang diprakarsai oleh Kementerian Agama RI.

Pemikiran-pemikiran pesantren yang selama ini menjadi tradisi keislaman sudah sepatutnya diberikan wadah berupa forum yang direncanakan dengan baik secara terstruktur dan sistematis.

“Hanya dengan berkontribusi kepada masyarakat, eksistensi pondok pesantren bisa terjaga,” tambah Menag.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin, yang turut hadir dalam acara itu menambahkan, kegiatan hari santri diarahkan untuk menstimulasi kemajuan pesantren sebagai tulang punggung keberagamaan dan ke-Indonesia-an. Untuk itulah Muktamar ini megambil tema “Islam, Kearifan Lokal dan Tantangan Kontemporer”.

“Persoalan kebangsaan dan keagamaan dewasa semakin kompleks,” katanya.

Menurut Kamaruddin, menguatnya gerakan radikalisme, ekstremisme hingga ideologi Islam transnasional semakin mendistorsi pemahaman keagamaan di Indonesia. Maka dari itu pengarusutamaan pesantren sebagai subkultur perlu ditingkatkan dengan mendayagunakan kaum santri dalam mengukuhkan identitasnya sebagai agen perubahan sosial.

Pesantren adalah entitas keislaman asli Indonesia yang moderat dan tak terjebak dalam dualisme tekstualisme dan liberalisme. Untuk itu pesantren merupakan aset bangsa yang berperan signifikan dalam menjaga persatuan Indonesia.

Dalam muktamar ini juga akan diselenggarakan forum-forum diskusi yang akan mempresentasikan 170 paper dari pesantren, mahasiswa, akademisi, dan peneliti keislaman yang membahas fenomena keislaman keikinian dalam kaitannya dengan pesantren.


Orasi Kebudayaan Dan Malam Kebudayaan

Acara muktamar ini diawali dengan orasi kebudayaan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dilanjutkan para panelis, diantaranya tiga pemerhati studi Islam asing, yaitu Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Muazzam Malik, Official Director Leiden University, Marrio Ballen, dan Guru Besar Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Syekh Bilal Mahmud Ghanim.

Sejumlah tokoh akan hadir pada malam kebudayaan pesantren dan festival sorban dan pegon kyai, yang juga digelar di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Di antara yang akan memberikan orasi pada acara malam kebudayaan adalah Ketua Umum PPP Romahurmuzy, Novelis Helvy Tiana Rosa, novelis Habiburrahman El-Shirazy, Musisi budayawan Candra Malik, dan Inayah Abdurrahman Wahid.

Ketika selesai acara Lukman Saifuddin menegaskan santri sudah memiliki pengalaman tersendiri dan juga wawasan pada tahun politik ini. "Santri bisa memilih mana pasangan yang dapat memenuhi aspirasi mereka," pungkas dia.