Dulu Menakutkan, Limbah Elektronik Kini Bersahabat untuk Warga Sukunan

Warga Desa Wisata Sukunan mengecek hasil produk gantungan kunci dari limbah elektronik, Rabu (26/9). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
11 Oktober 2018 10:25 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Desa Wisata Sukunan sudah terkenal sebagai desa pengolah limbah sejak dikukuhkan menjadi desa wisata pada 2009. Setelah namanya kondang hingga mancanegara, desa wisata ini semakin berkembang dan sekarang mahir mengolah limbah elektronik. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Bernadheta Dian Saraswati.

Sore itu, ibu-ibu di Desa Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman, duduk bergerombol. Ada sempat hingga enam perempuan paruh baya di masing-masing kelompok. Mereka mengutak-atik komponen radio dan perangkat elektronik lainnya menggunakan penggunting kuku dan lem, membentuknya menyerupai orang.

Boneka dari barang elektronik yang sudah tak terpakai itu lantas dimasukkan dalam cetakan dan disiram dengan adonan resin. Di samping boneka ditempelkan tulisan Desa Wisata Sukunan. Pada bagian ujung dipasang gantungan dari besi.

Orang-orangan yang sudah tertanam di dalam resin yang mengeras tersebut diangin-anginkan. Gantungan kunci pun jadi. Gondhal-Gandhul Sukunan namanya, yang berarti gantungan kunci dari Desa Wisata Sukunan.

Ide pembuatan gantungan kunci dari limbah elektronik muncul dari pikiran kreatif para finalis Dimas-Diajeng Jogja. Melalui Field Programme, mereka menggelar acara untuk mengangkat potensi desa wisata di DIY. Desa Wisata Sukunan dipilih karena memiliki potensi pengolah limbah.

Athreeanisa Sultanin Bintang Kusumaya, 19, finalis Diajeng Jogja 2018 yang juga menjadi panitia bidang humas dan sponsorship peluncuran Cendera Mata Gantungan Kunci Desa Wisata Sukunan mengatakan dia sangat terkesima dengan kesadaran warga Sukukan dalam mengolah limbah. Daun bisa menjadi pupuk, botol bekas jadi media tanam, dan plastik bisa menjadi tas dan dompet yang sudah berhasil dipasarkan ke Malaysia secara rutin.

“Namun ternyata dari sekian kelebihan Sukunan ini masih ada satu limbah yang belum bisa diolah yaitu elektronik. Limbah elektronik yang ada selama ini cuma dikumpulkan dan diberikan kepada pemerintah,” kata Bintang.

Suharto, Koordinator Pengolahan Sampah dan Lingkungan Desa Wisata Sukunan mengakui kelemahan itu. Warga terlalu takut dengan kandungan B3 yang ada dalam limbah elektronik sehingga barang-barang seperti baterai, lampu neon, lampu merkuri, sparepart elektronik radio dan televisi maupun komputer, sampai kaleng bekas pestisida ikut dikumpulkan agar tidak membahayakan kesehatan. Menurut medis, limbah B3 bisa mengakibatkan kecacatan janin.

“Sampah B3 kan beracun. Masyarakat belum diwajibkan mengolah sehingga kami mengumpulkan dan setiap setahun sekali ada petugas dari Dinas Lingkungan Hidup yang ambil,” ucap dia.

Tumpukan limbah elektronik itu ditimbun dalam drum khusus yang ada di bank sampah milik desa wisata itu. Setidaknya dalam setahun terkumpul sekitar lebih dari 50 kg.

Ide kreatif dari finalis Dimas-Diajeng Jogja itu pun membawa angin segar bagi Sukunan karena saat ini limbah elektronik yang selama ini ditakuti bisa menjadi sahabat yang bernilai ekonomi tinggi. Selain lebih aman karena ditimbun resin, limbah elektronik ini juga bernilai.

Sumber : JIBI/Solopos