Pembangunan Apartemen Dhika Universe di Kota Jogja Tuai Keluhan Warga

Ilustrasi apartemen - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
12 Oktober 2018 07:50 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Warga di sekitar proyek pembangunan Apartemen Dhika Universe mulai merasakan dampak negatif  dari proyek tersebut. Bahkan, para wali siswa dan sekolah PAUD dan TK Budi Mulia meminta agar Pemkot Jogja turun tangan menangani masalah tersebut.

Ahmad Yama, salah seorang wali siswa PAUD dan TK Budi Mulia mengakui jika anaknya merasa terganggu dengan suara proyek pembangunan apartemen tersebut. Bahkan debu-debu yang beterbangan dikhawatirkan mengganggu kesehatan kedua anaknya yang bersekolah di lokasi tersebut. “Dampaknya ke anak-anak langsung. Kalau sakit siapa yang bertanggungjawab?,” katanya saat ditemui Harianjogja.com, Kamis (11/10/2018).

Terlebih, kata Yama, getaran paku bumi dari proyek tersebut sangat kuat. Dia khawatir hal itu berpengaruh secara psikologis kepada anak-anak. Dia merasa heran kenapa Pemkot bisa mengeluarkan izin terkait pendirian apartemen yang berdekatan dengan sekolah. “Setiap hari anak-anak kami harus terkena debu dari proyek. Harusnya kontraktor respek terhadap lingkungan. Kami juga meminta agar Pemkot berdiri di depan untuk melindungi kepentingan warga Jogja,” katanya yang diamini sejumlah wali siswa lainnya.

Wakil Sekolah PAUD dan TK Budi Mulia Terban Udi Wardoyo juga khawatir dengan debu yang ditimbulkan dari proyek tersebut. Apalagi lokasi proyek berbartasan langsung dengan sekolah. “Paku besi yang ditanam menimbulkan suara gaduh laiknya gempa bumi. Anak-anak ada yang sampai takut dan menangis. Ada juga yang konsentrasinya berubah dan mencari sumber suara,” katanya.

Udi bercerita, saat ini kontraktor memasang jaring di sebagian kecil jalan masuk ke sekolah. Jaring tersebut dinilai tidak mampu menghalau debu karena tingginya hanya satu meter di atas pagar pembatas. “Paling parah debunya saat awal pekan lalu. Debu terbang sesuai arah mata angin, tidak hanya ke sekolah tetapi juga ke rumah warga yang berbatasan langsung dengan lokasi proyek,” katanya.

Yang pihak sekolah sayangkan, proyek tersebut tetap berjalan meskipun belum ada progres dari hasil pertemuan pertama yang dilakukan Manajemen PT Adhi Persada Properti (APP) pada Jumat (21/9/2018). “Itu pertemuan pertama yang kami dilibatkan. Sejak pertemuan itu, kami belum mendapat tanggapan nyata dari pihak managemen. Tapi proyek jalan terus. Akhirnya kami mendapatkan dampaknya,” katanya.

Tulus warga RT01/RW01 Kelurahan Terban, Gondokusuman selama ini Pemkot sepertinya tutup mata, telinga dan hatinya terhadap keluhan warga tersebut. Padahal, ada beberapa warga yang sebelumnya mendukung berubah haluan menolak proyek tersebut karena sudah merasakan dampaknya. “Logikanya ketika prosedur pengajuan izin masih ada penolakan dari warga, tentunya IMB dan Andal [analisis dampak lingkungan] yang dikeluarkan Pemkot menjadi tidak sah. Tapi entahlah, kok bisa keluar,” kata Tulus.

Selain pemberian izin dinilai janggal, warga sudah merasakan dampak lingkungan dan sosial terkait proyek pembangunan apartemen tersebut. “Debu beterbangan, dan suara berisik dari pemasangan paku bumi banyak dikeluhkan oleh warga.

Project Director Apartemen Dhika Universe APP Damaryanda Pawitan masih enggan berkomentar terkait masalah tersebut. Padahal sebelumnya, Damar mengaku jika pemberian IMB dan izin Amdal yang dilakukan sudah sesuai prosedur.