Terancam Punah Ribuan Warisan Budaya Tak Benda Bakal Dikembangkan

Anak-anak dari Kecamatan Jetis Jogja unjuk kebolehan saat mengikuti Festival Dolanan Anak 2018 di Pendopo Taman Siswa, Mergangsan, Jogja, Selasa (28/8/2018). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
12 Oktober 2018 05:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Ribuan warisan budaya tak benda (WBTB) di wilayah DIY berpotensi mengalami kepunahan. Pemda DIY mulai mendaftar penetapan WBTB tersebut ke Kemendikbud RI untuk dikembangkan agar tetap lestari di tengah perkembangan teknologi.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY Budi Wibowo menjelaskan sebanyak 64 WBTB milik DIY telah bersertifikat dari pemerintah pusat, jumlah itu termasuk paling banyak dibandingkan provinsi lain. Terdiri atas 37 yang disertifikatkan hingga 2017, kemudian selama 2018 telah mensertifikatkan 27 WBTB. Pemda DIY berupaya mendorong kabupaten dan kota agar turut serta melaporkan WBTB yang berada di wilayahnya sehingga jumlahnya terus bertambah. Pensertifikatan itu sebagai salah satu perlindungan terhadap WBTB. Ia memprediksi jumlah WBTB di DIY mencapai ribuan.

"Karena apapun itu WBTB ini kan merupakan identitas DIY sehingga harus kita data dan kita lindungi," ungkapnya kepada Harianjogja.com, Kamis (11/10/2018).

Budi mengakui berbagai jenis WBTB masih butuh untuk dikembangkan agar diminati dan diketahui masyarakat. Sehingga bisa bersaing dengan perkembangan di era modern, semisal WBTB makanan gudeg harus mampu bersaing dengan makanan restoran cepat saji, seperti halnya dolanan benthik bisa harus bisa bersaing dengan gadget yang saat ini banyak dipakai mainan anak-anak.

"Iya betul [terancam punah], makanya ini harus kita lindungi, pemerintah tidak boleh melepaskan dari institusi pembinanya," ujarnya.

Ia mengatakan pengembangan WBTB tidak sekedar hanya membiarkan ada, namun harus dikemas sedemikian rupa agar bisa dinikmati dan dipasarkan sehingga bisa bermanfaat. WBTB seperti makanan dan hasil kerajinan mungkin lebih mudah untuk dikemas agar tetap bisa hadir di tengah masyarakat. Namun, WBTB seperti dolanan anak dan berbagai jenis cerita rakyat harus butuh sentuhan khusus agar bisa selalu ada di tengah masyarakat. Ia merencanakan melakukan digital culture. Seperti cerita tradisional panji,tidak hanya diwujudkan dalam buku saja, tetapi harus secara digital.

Padahal, kata dia, dolanan warisan leluhur memiliki banyak makna, seperti halnya dolanan dakon yang membawa pesan gotong royong, kebersamaan dan harmoni antar pemainnya. "Beberapa mainan memang sudah dilupaman tetapi harus tetap dikenalkan bahwa ini warisan leluhur," katanya.

Ia mengatakan identifikasi sebenarnya telah dilakukan kabupaten/kota terhadap kebudayaan yang ada termasuk WBTB. Hanya saja terkait perlindungan dan pemanfaatan terhadap warisan budaya tersebut masih perlu ditingkatkan oleh kabupaten/kota. Pemda DIY menggunakan dana keistimewaan telah membangunkan taman budaya di setiap kabupaten/kota sehingga bisa menjadi tempat mengembangan warisan budaya tersebut.

Budi berpendapat pengembangan WBTB tersebut bisa bermuara pada kesejahteraan masyarakat jika dikemas secara baik. WBTB seni pertunjukan misal bisa dipertontonkan secara khusus kepada masyarakat. Sedangkan WBTB makan tradisional dan beragam souvenir bisa dijual di tempat wisata.

"Tinggal bagaimana mengemas sesuai dengan keinginan wisatawan, sehingga seperti makanan atau souvenir tidak perlu mendatangkan dari luar daerah," tegasnya.

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih menambahkan WBTB yang berada di DIY meliputi tradisi atau ekspresi hidup seperti tradisi lisan, seni pertunjukan, praktik sosial, ritual, beragam perayaan, pengetahuan dan praktik tentang alam dan semesta. Selain itu juga pengetahuan dan ketrampilan untuk menghasilkan kerajinan tradisional.