Antrean Cangkok Mata di Jogja Capai Ribuan Orang

RS Mata Dr. YAP Yogyakarta. - Harian Jogja
12 Oktober 2018 15:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jumlah pasien yang mengantre untuk menjalani operasi cangkok mata saat ini mencapai ratusan orang dan akan terus bertambah setiap bulan. Lantaran stok kornea mata sangat minim, RS Dr. YAP sebagai rumah sakit pelaksana operasi cangkok mata terpaksa harus mendatangkan kornea dari Nepal untuk mengurangi antrean.

Wakil Direktur Pelayanan dan Pendidikan RS Dr YAP Yogyakarta Rastri Paramita menjelaskan jumlah pasien yang mengantre operasi cangkok mata terus bertambah. Hingga Oktober 2018 tercatat ada sekitar 114 pasien yang telah mendaftarkan diri untuk mengantre operasi cangkok mata atau transplantasi kornea.

"Kalau stok kornea ya nggak ada, kalau misalnya ada langsung kami berikan pada yang mengantre karena ada ratusan [pasien mengantre butuh kornea]," ucap dia, Rabu (10/10) lalu.

Sebenarnya jumlah calon pendonor sudah ada. Namun kornea baru bisa diambil oleh penerima donor jika calon pendonor telah meninggal dunia.

Salah satu faktor tingginya pasien yang mengantre cangkok mata adalah penggunaan lensa kontak atau populer pada dunia kosmetik. Penggunaan jenis lensa ini beresiko tinggi terhadap infeksi di kornea. Jika terjadi infeksi maka mata akan kelihatan putih kemudian luka dan penglihatannya menjadi tidak sempurna, sehingga mau tidak mau kornea tersebut harus diambil untuk kemudian diganti dengan kornea milil orang lain atau pendonor.

"Supaya mengurangi banyaknya antrean kami datangkan dari Nepal. Untuk mendatangkan membutuhkan biaya, kalau operasinya bisa di-cover BPJS. Jadi operasi dilakukan ketika sudah ada kornea dari pendonor," ucapnya.

Dia mengatakan operasi cangkok mata bisa ditanggung BPJS secara penuh jika menggunakan rujukan berjenjang. Akan tetapi jika mendatangkan kornea dari Nepal, hal itu tidak masuk dalam klaim BPJS. Kornea dari luar negeri tersebut memang gratis atau tidak membeli, namun untuk mendatangkan ke Indonesia serta memasuki proses pengawetan tersebut membutuhkan biaya. Pihaknya sedang mengupayakan agar proses pengawetan kornea tersebut juga dapat ditanggung BPJS.

"Operasinya belum bisa ditentukan dan kadang belum tentu sebulan sekali ada karema tergantung ada atau tidaknya kornea," katanya.