Gara-Gara Sistem Rujukan Berjenjang, Pendapatan RSUD Sleman Turun

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
12 Oktober 2018 12:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com SLEMAN—Pendapatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman turun karena dampak dari penerapan regulasi baru sistem rujukan berjenjang.

Plt Dirut RSUD Sleman, Joko Hastaryo, mengatakan penurunan jumlah kunjungan pasien tahun ini mencapai 30%. Tahun ini RSUD Sleman menargetkan pendapatan Rp82 miliar. Namun karena adanya penurunan jumlah pasien, di anggaran perubahan target tersebut berubah dan diproyeksikan menjadi Rp69 miliar.

Joko mengatakan penurunan pendapatan terjadi salah satunya penyebabnya dari penerapan sistem rujukan berjenjang untuk pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. "Penurunan kunjungan tidak hanya terjadi di RSUD Sleman, teapi juga terjadi di rumah sakit kelas B di seluruh Indonesia," kata Joko saat ditemui belum lama ini.

Menurutnya, penerapan sistem rujukan berjenjang membuat pasien setelah dirujuk dari fasilitas kesehatan tingkat pertama harus berjenjang dari rumah sakit tipe D, ke tipe C, ke B baru kemudian ke tipe A. "Dulu pasien BPJS mau dirujuk langsung ke rumah sakit kelas B, sekarang ke RS kelas D, terus ke C baru ke B," kata Joko.

Joko mengatakan dampak dari rujukan berjenjang itu bukan hanya pada pendapatan RSUD, tapi ia juga khawatir dengan kondisi pasien. Menurutnya, pasien harus mendapat penanganan cepat untuk meminimalkan risiko.

Menurut Joko, RSUD Sleman harus menutupi pendapatan tidak hanya dari subsidi yang diberikan oleh Pemkab Sleman, tapi juga dari efisiensi anggaran yang dilakukan. Contoh efisiensi anggaran yang dilakukan yaitu mengurangi anggaran untuk kebutuhan makanan saat rapat.

Kepala Bidang Anggaran Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman, Aji Wibowo, mengatakan tahun ini total anggaran subsidi yang diberikan untuk RSUD Sleman sebesar Rp34,88 miliar. Rincian dari Rp34,88 miliar itu antara lain untul belanja tidak langsung (BTL) dan belanja langsung (BL). "Kalau subsidi BL saja hanya Rp12,4 miliar, tetapi ada juga dari gaji yang sampai Rp22,4 miliar," ujarnya, Kamis (11/10/2018).

Aji mengatakan subsidi dikeluarkan karena kondisi yang mendesak. Selain itu ia melihat penurunan pendapatan terjadi di RSUD Sleman. Ia mengatakan anggaran tersebut masih bisa berubah dan ditinjau ulang karena operasional dan pendapatan rumah sakit akan juga berubah.

Anggota Komisi D DPRD Sleman, Arif Kurniawan, mengatakan saat ini mau tidak mau RSUD Sleman harus menerima dan menjalankan aturan yang ada. "Persoalannya karena RSUD Sleman itu sudah telanjur tipe B, dan di Sleman sudah banyak yang tipe D dan C. Dampaknya, kunjungan pasien menurun karena sudah bisa diselesaikan di rumah sakit tipe C yang rata-rata merupakan sumah sakit rata swasta, padahal dari segi kemampuan, mereka [rumah sakit tipe C] sudah layak ke tipe B," ujar Arif, Kamis.

Ia mengatakan RSUD Sleman bisa melakukan upaya lain untuk melayani masyarakat yang belum memiliki jaminan. "Upaya lain bisa dilakukan, contohnya menambah layanan. Karena dengan rujukan seperti ini tidak bisa memilih pasien," kata Arif.