Penambang Batu di Bukit Mengger Ogah Berhenti Meski Dianggap Melanggar

Warga sedang menambang batu di bukit Mengger sisi utara di Dusun Sindet, Trimulyo, Jetis, Bantul. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
13 Oktober 2018 11:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Para penambang batu bukit Mengger, Trimulyo, Jetis, Bantul, enggan menghentikan aktifitasnya meski dianggap melanggar aturan. Mereka beralasan penambangan batu merupakan pekerjaan utama yang sudah dilakukan turun terumurun sejak puluhan tahun lalu.

Aktifitas di bukit yang masuk dalam lahan Sultan Ground (SG) itu dilakukan di beberapa sisi seperti Dusun Kembangsongo, Trimulyo, Jetis; Plenting Wukirsari, Imogiri; Dusun Dahromo, Pleret; dan Sindet, Trimulyo.

Ngadiman, 45, warga Dusun Kembangsongo II mengaku mulai menambang sejak usia 15 tahun. Saat ini ia juga mengikuti ayah dan kakeknya yang sudah lebih dulu menambang batu dibukit Mengger. Lokasi buki tepat berada di belakang rumahnya.

Aktifitas penambangan tersebut menjadi mata pencaharian dia dan sejumlah warga sekitar bukit. Dalam sehari penghasilan dari penambangan ia bisa memperoleh Rp300.000. Paling minim masih dapat Rp100.000. Dengan penghsilan tersebut ia mampu menyekolahkan anaknya.

Menurut dia, ada sekitar 50 kepala keluarga di Dusun Kembangsongo yang menggantungkan hidupnya dari bukit Mengger. Belum termasuk warga di dusun lainnya. Batu-batu hasil penambangan itu ia jual pengepul di wilayah DIY.

Ngadiman mengakui sejak beberapa bulan terakhir banyak permintaan untuk menghentikan aktifitas penambangan, termasuk dari Pemerintah Kabupaten Bantul. Namun pihaknya tetap kukuh pada pendiriannya.

"Menambang batu ini pekerjaan kami, lahan penghidupan kami. Kalau disuruh berhenti mau kerja apa. Apa mereka mau menggaji kami," ujar Ngadiman, saat ditemui Harianjogja.com, di rumahnya, Jumat (12/10/2018).

Dalam kesempatan sosialisasi yang digelar Pemda DIY dan Pemkab Bantul, Rabu (10/10/2018) malam lalu, Ngadiman pun ngotot tidak akan menghentikan aktifitas penambangannya karena belum ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan.

Ia bahkan menuding pihak yang meminta menghentikan aktifitas penambangan itu adalah pihak yang ingin mengembangkan wisata di bukit mengger. Pihak tersebut diakuinya juga bukan dari warga sekitar. Kendati demikian Ngadiman menyadari suatu saat warga pasti akan berhenti dengan dendirinya jika batu sudah tidak bisa ditambang.

Senada, dingkapkan Sukidi, 70, warga Sindet. Pria yang sudah menambang sejak remaja itu mengaku sudah menjadi aktifitas keseharian yang dilakukannya. Sukidi juga menolak jika harus menghentikan aktifitasnya tersebut karena belum ada pilihan lain.

Bukit mengger terdiri dari batu dan gamping. Warga sekitar hanya menambang batunya. Di bawah bukit sudah banyak perumahan yang berjejer, selain pemukiman warga. Perumahan tersebut, kata Sukidi baru ada sekitar 1995 lalu, sementara aktifita penambangan sudah puluhan tahun.

Sukidi tidak mempersoalkan jika pemerintah ingin mengembangkan wisata di sekitar bukit asalkan tidak menganggu aktifita penambangan, "Kami tidak merasa terganggu kalau mau dijadikan wisata. Kami juga menyadari kalau memang sudah ramai mungkin warga juga bisa berhenti dengan sendirinya," kata dia.

Sementara itu, Tenaga Ahli Bupati Bantul, Bidang Perekonomian, Bambang Priyambodo mengatakan aktifitas penambangan yang dilakukan warga di bukit Mengger tidak berizin. Selain itu aktifitas tersebut dapat merusak lingkungan dan membahayakan bagi warga. "Karena kawasan itu kan masuk jalur sesar opak jika terus ditambang bisa menutupi jejak sesar," kata Bambang.

Ia mengatakan Pemkab Bantul sudah berupaya meminta warga untuk menghentikan penambangan sejak 2016 lalu. Permintaan tersebut merupakan perintah Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Namun sampai sekarang masih ada warga yang menambang.

Bambang menyadari penambangan tersebut menjadi penghidupan masyarakat sekitar. Namun, menurutnya warga juga harus memahami dampak negatif dari aktifitas penambangan tersebut.