Peksiminas Diharapkan Bisa Mempersatukan Anak Bangsa

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jogja menyuguhkan tari Golong Gilig Praju Mandala dalam perhelatan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XIV-2018 di Lapangan Pancasila Ghra Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (16/10/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
17 Oktober 2018 05:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Perhelatan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XIV diharapkan tidak hanya menjadi wahana menuangkan segala kemampuan mahasiswa dalam olah seni. Namun juga ditujukan untuk membangun dan mengembangkan sisi terdalam manusia dengan manusia lain maupun hubungan manusia dengan Sang Maha Pencipta.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PP Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI), Didin Wahidin saat pembukaan Peksiminas 2018 di Lapangan Pancasila, UGM, Selasa (16/10/2018).

Didin juga mengharapkan kegiatan ini membangun silaturahmi anak bangsa, membangun soliditas, kohesivitas antaranak bangsa dari seluruh penjuru Tanah Air dan sebagai wadah pengembangan karakter serta memperkuat komitmen bangsa, sebagai modal besar berbangsa bernegara.

“Dalam kompetisi menang penting namun lebih penting terbangun jiwa pemenang, yakini semangat juang kuat tidak kenal menyerah, sportivitas kerja tim, menghargai kelebihan orang lain dengan menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri,” ujar Direktur Kemahasiswaan, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan itu, Selasa (16/10/2018).

Menurut dia, perlu kerja keras untuk meningkatkan kualitas diri menjadi yang terbaik. Selain itu nuansa kompetitif dibutuhkan pula untuk membangun anak bangsa di era saat ini. Membangun karakter yang berdaya saing tersebut membutuhkan jiwa kreatif, inovatif dan kompetitif.

“Daya saing bangsa 36 dari 137 negara tetapi daya saing inovasi bangsa 87 dari 137 negara, ada persoalan mendasar yang harus kita garap. Kita coba pecahkan salah satunya melalui Peksiminas ini,” ujarnya.

Menurut dia, Peksiminas sebagai perhelatan seni jangan hanya dipandang seni untuk seni. Namun paling tidak melibatkan dua hal yang mendasar yang saling bergantung satu dengan lainnya yakni proses kreasi dan apresiasi.

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo menyampaikan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Dikatakan dia, DIY tumbuh menjadi salah satu pusat pendidikan, budaya, pariwisata yang terkemuka di Indonesia.

“Sekaligus kota unik yang memiliki dua wajah, di satu sisi simbol tua yang berbalut nilai tradisi luhur kerajaan Jawa, di sisi lain merupakan wajah gemerlap modernitas. Keduanya berjalan beriringan seperti menyusuri sebuah lorong waktu,” ujarnya.

Menurut Singgih, menjadi kebanggan DIY ditunjuk menjadi tuan rumah Peksiminas. Diharapkannya Jogja dapat mendukung pelaksanaan dan meninggalkan kesan yang baik bagi para peserta.

Dinilai ada gairah seni tinggi, banyak mahasiswa yang konsen dan berkompeten dalam bidang seni walaupun tidak sedikit yang bertolak belakang dengan disiplin ilmu yang ditempuh di bangku kuliah. Peksiminas dirasa penting menambah ilmu pengetahuan dan soft skill mahasiswa di luar disiplin ilmu. Serta wujud apresiasi mahasiswa terhadap seni melalui kompetesi guna meraih kesuksesan di masyarakat yang lebih luas dan dalam kehidupan.

Rektor ISI Jogja Agus Burhan mengatakan kegiatan ini merupakan imbangan kompetensi utama. “Diharapkan mahasiswa dapat terbangun menjadi sarjana dan manusia seutuhnya,” ujarnya.

Kegiatan dua tahunan ini menjadi media skala nasional untuk berekspresi, bersilaturahmi dan berkompetisi secara sehat dari bakat seni maupun soft skill lainnya.

Dalam gelaran ini setidaknya ada 1.008 peserta dari 34 provinsi di Indonesia. Para peserta akan mengikuti 16 tangkai lomba yang diselenggarakan di delapan kampus di DIY. Tim juri dari akademisi dan profesional.