Tantangan Pemilu 2019 Adalah Hoaks

Talk show Pemilu di Era Teknologi Digital: Peluang dan Tantangannya, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), UGM, Sabtu (20/10). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
22 Oktober 2018 23:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pemilu dan kemajuan era teknologi digital tidak dapat dipisahkan. Terlebih saat ini, tren pengguna teknologi digital di Indonesia perkembangannya sangat pesat.

Ketua KPU RI, Arief Budiman mengungkapkan KPU mencoba merespons perkembangan teknologi tersebut dengan melihat dampak positif dan negatif. Hal postifnya, KPU saat ini membuat aplikasi berbasis mobile. Hampir semua tahapan pemilu dapat disajikan ke publik di halaman web KPU dan orang lebih mudah mengakses.

“Namun dampak negatifnya juga harus kami pikirkan. Banyak orang memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk menyebar hoaks, mengadu domba antarpendukung,” kata dia kepada awak media seusai talk show Pemilu di Era Teknologi Digital: Peluang dan Tantangannya, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), UGM, akhir pekan lalu.

Saat ini KPU mencoba menggali bagaimana cara meminimalkan dampak buruknya dan berusaha meningkatkan penggunaan serta dampak positif. Saat ditanya kaitannya dengan buzzer menurut Arief, tidak menjadi masalah jika melakukan hal baik, tetapi yang jadi masalah jika menyebarkan berita negatif.

Jika nantinya ditemukan ada penyebaran hal-hal yang negatif maka akan dibahas dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Komisi Penyiaran, dan Dewan Pers. Saat ini Arief mengungkapkan pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa pemilik platform seperti Google, Whatsapp dan lain sebagainya.
Terkait usulan debat capres cawapres di lingkungan kampus, ia mengatakan akan melihat terlebih dahulu perintah UU bagaimana teknis yang dirancang KPU.

“Kalau mereka kampanye di kampus tidak boleh. Namun kalau KPU membuat acara boleh-boleh saja. Kan KPU tidak kampanye. Bagi saya kampus harus jadi ruang untuk bisa membicarakan apapun, banyak orang bijak di situ,” ujarnya.

Dalam diskusi, Direktur Perencanaan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Aria Bima mengungkapkan media sosial mendominasi munculnya hoaks dan yang harus menjadi perhatian bersama untuk dihilangkan.

“Selama medsos membuat ruang hoaks, tidak akan bisa menjadi lebih baik siapapun yang memimpin,” ujarnya.

Akibat media sosial ini disintegrasi bangsa dapat terjadi. Masalah tidak hanya berhenti pada media sosial, tetapi juga bisa terbawa ke dunia nyata. Hal yang harus dilakukan adalah menguatkan integrasi bangsa.

Munculnya hoaks diruang ruang media sosial juga dikhawatirkan Koordinator Juru Bicara Tim kampanye Nasional Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. Dia mengungkapkan tantangan pada era ini yaitu proses seleksi informasi yang tidak punya batasan sehingga muncul hoaks. “Kunci kami memastikan pemilih itu rasional, dan memastikan pemilih merawat akhlak yang baik,” ujar Dahnil.