Benturan Agama dan Budaya Dapat Merusak Persatuan

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (tengah) bersama para tokoh agama dan budaya di Omah Tembi, Sewon, Bantul. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
04 November 2018 10:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Sikap membenturkan nilai dan norma agama dengan keragaman budaya Indonesia dapat merusak modal sosial dan modal kultural yang menjadi pondasi bangsa dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Demikian diungkapkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menanggapi hasil sarasehan para agamawan dam bidayawan di Omah Tembi, Sewon, Bantul, Sabtu (3/11/2018).

Ada 23 tokoh agama dan tokoh budaya yang menggelar sarasehan selama dua hari di Omah Tembi. Sarasehan tersebut digelar terkait peristiwa akhir-akhir ini yang mempertentangkan agama dan budaya.

Salah satu contoh kasus adalah pembubaran sedekah laut di Pantai Baru, Srandakan, Bantul, beberapa waktu lalu. Tradisi yang sudah lama berjalan itu dirusak sekelompok orang karena dianggap syirik.

Menteri Agama mengatakan dalam konteks berbangsa dan bernegara, budaya dan agama sejatinya merupakan dua hal yang tidak perlu dipertentangkan. Keduanya sangat melekat dan menyatu. "Nilai agama ketika membumi maka membutuhkan budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat," kata Lukman.

Menurut dia agama dan budaya selama ini telah berkembang secara harmonis dalam perjalanan sejarah panjang bangsa Indpnesia. Keduanya bersama-sama telah mewariskan nilai, norma, dan etika yang terbukti berhasil mempersatukan keragaman masyarakat Indonesia.

"Pemerintah akan terus berupaya menghadirkan pendidikan agama dan budaya yang mampu menghasilkan anak Indonesia, yang memilili keyakinan bersama bahwa keragaman adalah anugerah Tuhan," kata Lukman.

Sarasehan agamawan dan budayawan itu diikuti 23 tokoh agama dan budaya, di antaranya adalah Amin Abdullah, Kiai Abdul Muhaimin, Alissa Wahid, Radhar Panca Dahana, Romo Aloys Budi Purnomo, Bikku Pannyavaro, Ridwan Saidi dan Jhon Titaley.

Sarasehan itu menghasilkan sejumlaj catatan yang dinamai "Permufakatan Yogyakarta Agamawan dan Budayawan". Beberapa catatan di antaranya menyatakan prihatin atas terjadinya gesekan di kalangan masyarakat terkait budaya dan agama.

Memyerukan kepada para tokoh agama untuk menenamkan kesadaran kepada masyarakat bahwa tujuan akhir dari ajaran agama adalah membentuk akhlak mulia, yang dengannya masyarakat berinteraksi sosial dengan tertib, toleran, saling menghormati satu dan yang lainnya, berperilaku sabar dan menahan diri, serta bersyukur atas anugerah keragaman bangsa Indonesia.

Selain itu juga menyerukan kepada para tokoh budaya untuk terus mengembangkan produk kebudayaan yang menghargai karakter dasar masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas; mendorong kepada pemerintah untuk mengembangkan model pendidikan yang dapat menciptakan jembatan antara religiusitas, nasionalitas, dan entitas bangsa Indonesia.

Sementara itu, Amin Abdullah mengatakan perlunya mengorekai kembali cara belajar agama yang cenderung menghakimi dan cara memahami budaya. "Karena kita terlalu dokotomis banget bahwa budaya tak terkait agama dan agama tak terkait budaya. Padahal dalam agama ada budaya dan dalam budaya ada bintik bintik spiritual," kata Amin, seusai sarasehan.

Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga ini menilai bukan zamannya lagi belajar agama saja yang terlepas dari aspek budaya. Demikian juga memahami budaya yang lepas dari nilai spiritual. Sebab jika keduanya dipisahkan, maka yang muncul adalah emosi.

Ia menyambut baik forum tokoh agama dan budayawan itu dan berharap rekomendasinya tersebut dipahami semua pihak.