Penerapan HOTS Jangan Hanya Saat Tes

Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy - Antara
07 November 2018 11:10 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Penerapan Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi sudah waktunya diterapkan pada metode pembelajaran sehari-hari dan tidak hanya saat ujian nasional. HOTS yang dibiasakan di kelas diyakini mampu meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis dan analitis.

Guru Besar Matematika Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Widodo yang juga pernah menjabat sebagai
President of Indonesian Mathematical Society pada 2008-2012 mengatakan HOTS sudah diaplikasikan dalam soal ujian nasional tahun ajaran kemarin. Namun saat itu hanya mengakomodasi 10%.
Jika ingin membentuk karakter siswa yang kritis, tidak cukup dengan alokasi soal HOTS 10% tetapi bisa lebih besar.

"Sebaiknya tidak hanya di ujian nasional tetapi juga di pembelajaran di kelas. HOTS itu levelnya ada yang mudah, tengah, dan sulit. Karena enggak terbiasa [dengan HOTS] jadi kelihatan sulit," kata dia kepada Harian Jogja, Selasa (6/11/2018).

Untuk itu pemerintah dirasa perlu membentuk regulasi sederhana agar para tenaga pengajar segera mempraktikkan metode pembelajaran HOTS pada siswanya. Regulasi perlu dijadikan pedoman para pengajar karena menurut dia, tipikal orang Indonesia enggan bekerja lebih jauh dan merasa takut memulai jika tidak ada aturan yang resmi.

Pria 55 tahun ini mengatakan HOTS mengutamakan daya berpikir yang mendalam, kritis, analitis, dan evaluatif. Tipikal soal-soal HOTS adalah tidak sekadar mengingat dan menghafal tetapi mengombinasikan beberapa pengetahuan untuk menyelesaikan soal. "Salah satu bentuknya [soal HOTS] itu esai," katanya.

Ia mengakui soal esai memang sulit diterapkan pada ujian nasional karena sifatnya yang massal dan berkaitan dengan proses koreksi yang membutuhkan waktu lama. Namun menurut dia, para pengajar mulai dapat menerapkan soal HOTS di level daerah, seperti ujian sekolah atau sebatas ulangan harian di kelas.

Widodo mengatakan penerapan HOTS memang dibutuhkan kesadaran para guru untuk memulai. Sementara sebagai pakar matematika yang pernah mengisi jabatan sebagai Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika, ia memperkirakan dari 150.000 guru matematika non-SD di Indonesia, hanya sekitar 30% yang dirasa berkualitas.

"HOTS bisa dilakukan. Masalahnya sekarang apakah guru-guru mau mengubah pola pikir [dari keterampilan berpikir tingkat rendah ke tingkat tinggi] itu atau tidak," kata dia.

Ia menegaskan kecerdasan alamiah anak Indonesia tidak kalah dengan negara lain hanya saja belum ada pembiasaan HOTS. Selama ini kegiatan belajar cenderung mengejar hasil akhir, bukan pada proses. Widodo meyakini jika HOTS diterapkan serentak maka nilai matematika orang Indonesia berdasarkan Programme for Internasional Student Assessment (PISA) meningkat.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Jogja mengatakan jika nilai matematika Indonesia berdasarkan PISA berada di tataran dari 72 negara lain di dunia. Salah satu penyebabnya karena metode pembelajaran Indonesia masih menerapkan lower order thingking skills (LOTS), sementara standar penilaian PISA adalah berdasarkan HOTS.

"Saya minta para guru atau mahasiswa yang ambil jurusan matematika mulai menyosialisasikan penerapan HOTS ini," katanya.