Sektor Wisata Gunungkidul Bagian Utara Diharapkan Dongkrak PAD

Embung Nglanggeran di Desa Nglanggerang mengering karena air disedot untuk menyirami tanaman buah di lokasi sekitar. Foto diambil beberapa waktu lalu. - Ist/pengelola wisata Nglanggeran.
09 November 2018 05:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pariwisata (Dinpar), Gunungkidul terus berupaya mengembangkan sektor pariwisata di bagian utara. Selain untuk meningkatkan kunjungan wisata, didorongnya sektor utara tersebut untuk pemerataan kunjungan wisata yang saat ini masih di dominasi di selatan atau wilayah pantai.

Sekretaris Dinpar, Gunungkidul, Hary Sukmono mengungkapkan saat ini berusaha mengembangkan sejumlah destinasi baru utamanya di utara. Sejumlah wahana maupun fasilitas terus dibangun. Salah satu yang menjadi unggulan adalah wahana flying fox di Kecamatan Gedangsari.

“Kami berupaya meningkatkan kunjungan dengan menambah destinasi wisata baru, seperti yang ada di Kecamatan Gedangsari dengan flying fox yang merupakan terpanjang di ASEAN,” ujar Hary, Kamis (8/11/2018).

Menurut Hary pengembangan wisata di sektor utara tersebut sudah berlangsung cukup lama sekitar 2010. Pemerintah berupaya memberikan alternatif destinasi wisata seperti di Gunung Api Purba Nglanggeran, Gua Pindul, Kali Suci dan sejumlah lokasi lainnya.

Dengan berkembangnya sektor Hary menurutnya dapat semakin mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Diklaim setiap tahunnya PAD pariwisata terus meningkat.

Hingga November ini PAD pariwisata sudah tercapai sebesar Rp 20.671.143.670. Meski belum memenuhi target, namun pihaknya optimis mampu melampaui target yang ditetapkan dalam sisa waktu yang ada.

“Untuk target retribusi adalah Rp28.246.144.000. Kita optimistis bisa mencapai target PAD. Selain itu kita juga optimis dalam pemenuhan target kunjungan wisata yang sebesar 3.184.286 wisatawan. Masih ada libur natal 2018 dan tahun baru 2019,” katanya.

Sementara itu, pengelola Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, Sugeng Handoko mengungkapkan pengembangan wisata yang sistemik menjadi kunci. Dikatakannya untuk menambah kunjungan dengan cara berkolaborasi. Sebab destinasi wisata tidak bisa berkembang snediri.

“Hal ini berkaitan dengan managemen pengelolaan wisata di Gunungkidul. Jika tetap ingin eksis, harus berkolaborasi antar destinasi lainnya. Sedangkan peran pemerintah bisa menjembatani dengan melakukan arahan serta pendampingan,” ujarnya.