Tantangan Menuju Planet 50:50 Cukup Berat

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Yohana Susana Yambise (kiri) mengisi kuliah umum dengan tema Gender Equality dalam Era Digital Innovation di Indonesia di Fakultas Geografi UGM, Jumat (9/11/2018). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
10 November 2018 13:10 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Partisipasi perempuan dalam dunia kerja masih rendah. Mereka memilih menanggalkan kemampuan akademiknya dan memilih berkecimpung di ranah domestik. Hal ini menjadi tantangan besar Indonesia dalam mewujudkan Planet 50:50.

Planet 50:50 merupakan gerakan mewujudkan kesetaraan gender laki-laki dan perempuan. Gerakan ini ditargetkan bisa tercapai pada 2030 mendatang. Indonesia merupakan satu di antara 10 negara yang turut menandatangani terwujudnya gerakan itu. Setiap tahun, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia wajib melaporkan progres kesertaan gender yang sudah dilakukan Indonesia ke Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun tingginya pilihan perempuan terjun ke ranah domestik membuat kesetaraan gender semakin sulit dicapai. Hal itu dikatakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Yohana Susana Yambise melihat rendahnya partisipasi perempuan di berbagai bidang, seperti di dunia kerja dan politik.

Ia memaparkan jumlah mahasiswi lebih banyak dibandingkan mahasiswa. Pada 2017, dari 5,6 juta mahasiswa di Indonesia, jumlah perempuan mendominasi sekitar tiga juta, sementara laki-laki hanya 2,6 juta. Data tersebut berbeda dengan angka partisipasi angkatan kerja perempuan yang jauh lebih rendah. Partisipasi angkatan kerja perempuan 48,87% sementara laki-laki 82,71%.

"Yang saya pikir itu, biaya kuliah yang dikeluarkan orang tua cukup besar. Setelah tamat kok langsung masuk ke domestik. Kita ini mau mengejar Planet 50:50, kalau semua masuk domestik siapa yang mengantar ke 2030?" jelas guru besar pertama perempuan di tanah Papua ini saat mengisi Kuliah Umum Gender Equality dalam Era Digital Innovation di Indonesia di Fakultas Geografi UGM, Jumat (9/11/2018).

Selain angkatan kerja yang masih minim, tantangan menuju Planet 50:50 juga datang dari bidang politik. Menurut data yang dimilikinya, partisipasi perempuan di dunia politik masih rendah. Secara nasional hanya 17%, provinsi 16%, dan di kabupaten/kota juga tidak mencapai seperlimanya dan hanya 14%. Kenyataan itu cukup miris mengingat jumlah perempuan di Indonesia menduduki 51,3% dari 261 juta jiwa.

Untuk itu, ia berharap pada mahasiswa sebagai penerus bangsa agar mau mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan berpartisipasi dalam setiap pembangunan negara.

Wakil Rektor Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM Djagal Wiseso Marseno mengatakan berdasarkan statistik UGM, komposisi wanita di beberapa fakultas di UGM lebih banyak. Namun di tempat lain, ironisnya justru membatasi penerimaan mahasiswa baru wanita.

"Wanita dianggap saat bekerja dan menikah kemudian tidak melanjutkan kerjanya, sehingga hubungan almamater putus. Kalau UGM menempatkan laki dan wanita equal [sama]," katanya.