Digelar Tanpa Kirab, Merti Kali Code Tahun Ini Tetap Khidmat

Merti Kali Code. - Antara/Hendra Nurdiyansyah
11 November 2018 17:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ratusan warga bantaran Kali Code kembali menggelar Budaya Merti Code, Sabtu (10/11). Tahun ini, tradisi budaya tersebut memasuki tahun ke-16.

Bedanya, jika tahun-tahun sebelumnya perayaan tersebut dilengkapi dengan kirab budaya, tahun ini tidak demikian dengan alasan keterbatasan anggaran. Meski begitu, gelaran Budaya Merti Code yang ke-16 tahun ini tetap berlangsung meriah dengan sejumlah kegiatan.

"Kami suguhkan kegiatan seni budaya dalam beberapa fragmen. Ini tidak menghilangkan kemeriahan Budaya Merti Code tahun ini, meskipun tanpa kirab budaya," kata Wakil Panitia Merti Code Sudiarsa kepada Harian Jogja di sela kegiatan, Sabtu.

Gelaran budaya ini diawali dengan pengambilan sumber mata air dari tujuh lokasi. Mulai dari dua sumber mata air di Turgo, Boyong, Jetisharjo; dua sumber di Cokrokusuman hingga tiga sumber di Terban. Ketujuh mata air tersebut kemudian dikumpulkan dan didoakan sebelum dibagikan kepada khalayak. Tradisi tahunan ini dilakukan agar masyarakat tetap melestarikan mata air dan sungai.

"Kalau tahun lalu ketujuh mata air ini ikut dikirabkan, tahun ini cukup di tempat kan dalam satu lokasi. Prosesinya tetap sama, hanya tidak ada kirab. Ada juga replika Tombak Kiai Ramukti yang kami tampilkan," katanya.

Masing-masing kelompok warga menampilkan kreativitas mereka. Mulai Bregada Uran Uran (Tembang Jawa), Penampilan Cokro Wiromo Serandul (drama Jawa laiknya ketoprak) dari Cokrokusuman.

Selain itu, warga Pasiraman menampilkan Bregada Pasembada. warga Jetisharjo juga ikut menampilkan tarian dari Sanggar Seni Tedjo Budoyo. "Kami juga menampilkan Srandul Surya Arum, Jatilan Code Laras, Ketoprak Cekak Bagong," ucap dia.

Sudiarsa berharap agar tradisi Budaya Merti Code bisa terus dilestarikan masyarakat. Dengan harapan agar warga sekitar sungai tetap aman dan hidup rukun dengan sungai. "Karenanya, tujuan Merti ini untuk mengajak warga sepanjang bantaran Kali Code untuk menjaga kelestarian sungai dan mata airnya," katanya.

Ketua Panitia Merti Code Yulius Krisnanto mengakui kurang sreg dengan tidak adanya kirab dalam Budaya Merti Code pada tahun ini. Kondisi tersebut tidak terlepas dari ketiadaan dana dari pemerintah untuk ikut melestarikan tradisi masyarakat tersebut.

Warga sempat putus asa untuk menggelar, namun akhirnya tetap melanjutkan tradisi Merti Code agar tradisi tersebut tidak putus. "Untungnya, kami juga bertemu dengan Ketua Komisi B DIY, akhirnya mengusahakan agar Budaya Merti Code tetap digelar meskipun tidak ada kirab. Sebenarnya kirab itu penting," ujarnya.

Dia berharap ke depan, pemerintah lebih memerhatikan tradisi dan even warga yang sudah berlangsung secara turun temurun agar tetap dilestarikan. "Bantuan tidak hanya melulu pada masalah dana. Pembinaan dan pelibatan even-even untuk eksistensi kami sebagai kampung budaya juga semestinya diperhatikan.”