GREBEG MULUD: Tujuh Gunungan Diserbu Ribuan Warga

Warga berebut sisa-sisa gunungan di halaman masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (21/11/2018). - Galih Yoga Wicaksono.
21 November 2018 14:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ribuan warga antusias mengikuti Grebeg Mulud Tahun Jawa Be 1952 di Alun-Alun Utara Jogja, Rabu (21/11/2018). Sebanyak tujuh gunungan diarak dan diperebutkan oleh masyarakat.

Terik matahari yang menyengat badan seakan tidak digubris warga untuk melihat tradisi tersebut. Mereka menyebar di penjuru jalan.

Selain di Masjid Gedhe Kauman, masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi juga menunggu iringan gunungan di Puro Pakualaman. Di sepanjang jalan dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju Puro Pakualaman juga dipenuhi orang tua dan anak-anak.

Pagi hari pukul 07.00 WIB, setidaknya sepuluh bregada bersiap-siap dari Pracimosono di area Pagelaran, kompleks Kraton Jogja, untuk mengawal jalannya gunungan-gunungan.

Tahun ini ada tujuh gunungan, yang terdiri dari tiga Gunungan Lanang, dan masing-masing satu Gunungan Wadon; Gunungan Gepak, Gunungan Darat dan Gunungan Pawuhan. Tepat pukul 10.00 WIB, sebanyak lima gunungan dibawa ke Masjid Gedhe, sedangkan dua lainnya diserahkan ke Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Setelah selesai didoakan di Masjid Gedhe, empat gunungan dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan. Selain itu, satu Gunungan Gepak diserahkan kepada para pengurus masjid di Pengulon.

Satya Bilal, Tepas Tanda Yekti Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengatakan dasar dgelarnya upacara adat ini adalah kalender Sultan Agungan. Tarikh Jawa yang disusun pada jaman keemasan kerajaan Mataram ini dihitung berdasarkan peredaran bulan dengan angka tahun yang meneruskan bilangan Tahun Saka.

Sekitar pukul 07.00 WIB, upacara Grebeg Mulud dimulai. "Sepuluh bregada prajurit bersiap-siap dari Pracimosono di area Pagelaran untuk mengawal jalannya gunungan-gunungan," katanya di sela-sela kegiatan.

Tahun ini, kata Satya, ada total tujuh gunungan yang dikeluarkan oleh Kraton Ngayogyakarta. Ketujuh gunungan itu terdiri dari tiga Gunungan Lanang, dan masing-masing satu Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat dan Gunungan Pawuhan. Tepat pukul 10.00, lima gunungan dibawa ke Masjid Gedhe Kauman. Dua lainnya diserahkan ke Kepatihan dan Puro Pakualaman.

"Setelah selesai didoakan di Masjid Gedhe, empat gunungan dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan. Selain itu, satu Gunungan Gepak diserahkan kepada para pengurus masjid di Pengulon," katanya.

Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan Hajad Dalem Garebeg Mulud tahun ini. Pada Selasa (20/11) malam, Kraton Ngayogyakarta menggelar Kondur Gangsa. Inti dari Upacara Kondur Gangsa adalah mengembalikan dua gamelan pusaka, Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dari Pagongan Masjid Gedhe ke dalam kraton.

"Prosesi diawali dengan hadir [miyos]-nya Sri Sultan HB X di Pelataran Masjid Gedhe pukul 20.00 WIB untuk menyebar udhik-udhik yang berisi beras, bunga dan uang logam. Pertama-tama udhik-udhik itu disebar di Pagongan Selatan tempat diletakkannya gamelan Gunturmadu," ucap Satya.

Setelah itu, Sultan kembali menyebar udhik-udhik di pagongan utara, tempat diletakkannya gamelan Nagawilaga, sebelum masuk ke dalam masjid. Selesai menyebar udhik-udhik, Sri Sultan duduk di serambi Masjid Gedhe untuk mendengarkan pembacaan riwayat nabi oleh Kyai Penghulu.

Hadir dalam pembacaan riwayat nabi tersebut kedua putra KGPAA Paku Alam X, Mantu Dalem, Pangeran Sentana, Bupati dan abdi dalem dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah pembacaan riwayat nabi, sekitar pukul 21.30 WIB Sri Sultan meninggalkan masjid melalui regol atau pintu gerbang masjid di sebelah timur menuju kraton.