Delegasi Kongres Peranakan Internasional Kunjungi Jogja

Liong Naga tertua dari Hoo Hap Hwee dipertunjukkan dalam menyambut kedatangan ratusan delegasi 31st International Peranakan Convention belum lama ini. - Ist
06 Desember 2018 13:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menampilkan keberagaman budaya akulturasi yang dimiliki peranakan Tionghoa di sejumlah negara, peserta 31st International Peranakan Convention sambangi Jogja. Ratusan peserta konferensi tingkat internasional itu mengagumi akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di Jogja.

Ketua Panitia Acara Wilayah DIY Ernest Lianggar Kurniawan mengatakan konferensi tersebut diadakan oleh Peranakan Tionghoa Warga Indonesia (Pertiwi) dengan menggandeng Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC).

“Sebenarnya Jogja tidak menjadi daerah yang masuk dalam daftar kunjungan para delegasi konferensi tersebut. Kebetulan Jogja memiliki sebuah Prasasti Huruf Tionghoa Jawa yang mana prasasti itu tersimpan di Kraton Jogja,” ujar Ernest saat dihubungi Harian Jogja, Rabu (5/12).

Sedikitnya, 320 orang peserta konferensi tersebut mampir dan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah di Jogja. Selepas menikmati kemegahan Candi Borobudur di Jawa Tengah, para delegasi dijamu para warga Tionghoa Jogja dari berbagai paguyuban. Kegiatan mereka di kota pelajar diawali 28-29 November lalu.

Ernest memaparkan para delegasi juga diajak mengenal berbagai produk akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa di kota ini. Antara lain keunikan kudapan khas Jogja, bakpia yang merupakan perpaduan budaya kuliner Tionghoa dan Jawa yang kemudian berkembang sebagai salah satu oleh-oleh khas DIY.

“Selain itu, kami juga menampilkan Liong Naga Barongsai dari Hoo Hap Hwee yang merupakan liong tertua berusia 100 tahun. Kami ingin menunjukkan sentuhan akulturasi Tiongkok dan budaya setempat pada liong tersebut,” jelas Ernest.

Tak hanya memberikan dampak pada pengenalan budaya peranakan di Jogja kepada warga peranakan dari sejumlah negara. Akan tetapi, ratusan peserta tersebut juga turut memberikan dampak signifikan pada kunjungan pariwisata ke kota gudeg.

“Kegiatan ini turut memberi kontribusi terhadap pariwisata Jogja, karena setelah selesai dengan kunjungan ke Kraton, mereka menikmati wisata di Malioboro dan beberapa destinasi di kota ini,” ungkap Ernest.