Petani Playen Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

Mujiono tengah menunjukan stok pupuk yang masih tersisa di rumahnya di Desa Playen, Kecamatan Playen, Kamis (6/12/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
07 Desember 2018 10:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjoga.com, GUNUNGKIDUL-Kelangkaan pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska dan SP 36 melanda Kecamatan Playen. Petani khawatir jika kelangkaan ini berlanjut maka produksi padi yang tengah mereka tanam akan menurun.

Salah seorang petani asal Desa Playen, Kecamatan Playen, Mujiono, 44, mengungkapkan sejak sebulan terakhir ini dia beserta para petani sekitar sulit mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut.

“Sudah komunikasi dengan ketua kelompok tani tapi disampaikan, stok pupuk bersubsidi [NPK Phonska dan SP36] telah habis, itu aneh seharusnya stok masih ada mengingat masa tanam baru berjalan 30 hari," ucap Muji, Kamis (6/12/2018).

Muji mengatakan selama keberadaan kedua jenis pupuk tersebut penting bagi keberlangsungan padinya. Sebab pupuk Phonska dan SP 36 dibutuhkan untuk mendapatkan tanaman padi dengan hasil gabah yang berisi. Jika hanya dipupuk dengan pupuk jenis urea maka ancaman terbesarnya adalah tanaman mati karena hama kresek yang berimbas pada penurunan produksi.

Hal itu pernah dialami Muji pada saat musim tanam sebelumnya. Diketahui tanaman padinya diserang hama kresek yang membuat daun layu dan mengering. Setelah ditelisik hama tersebut dipicu oleh penggunaan pupuk jenis urea. Dia lantas mengadu ke Dinas terkait dan dari disarankan agar petani beralih menggunakan pupuk jenis NPK Phonska dan Sp36.

"Kalau hanya mengandalkan pupuk jenis urea itu justru tidak baik untuk tanaman, karena jadi rawan terserang hama kresek, sehingga pemakaiannya harus imbang, namun sekarang barangnya malah langka," ujarnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul Raharjo Yuwono saat dikonfirmasi membenarkan adanya keluhan para petani terkait kelangkaan pupuk bersubsidi di wilayah Kecamatan Playen.

Dia berjanji jawatannya akan segera melakukan monitoring dan evaluasi atas permasalahan ini. “Ini sedang kami cek ke distributor, tapi seharusnya masih ada stok, setidaknya ada prediksi tinggal 10%. Seperti di Kecamatan Patuk seharusnya masih ada 14 ton yang belum ditebus," ucap Raharjo.

Raharjo menjelaskan sejauh ini NPK Phonska per Oktober 2018 sudah tersalur alokasi 5.765 ton atau sekitar 95%. Sementara jenis Sp36 alokasi sampai dengan Oktober penyaluran 749 ton dari kuota 907 ton atau 82.6%.

“Kami cari data dan cocokan apa masalahnya. Semoga setelah tanggal 11 Desember 2018 tidak ada masalah,” ucapnya.