Islam dan Budaya Tidak Bisa Dipisahkan

Para pemuda dari berbagai kalangan mengikuti Sarasehan Kebudayaan Menimbang antara Kearifan Lokal dan Kemusyrikan di Wisma Kagama, Jumat (7/12/2018). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
08 Desember 2018 05:50 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Islam masuk ke Indonesia melalui media budaya sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan. Islam harus dipahami secara moderat agar tercipta keharmonisan antara agama dan local wisdom.

Hal tersebut disampaikan Lajnah Bahtsul Masa’il Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (LBM PWNU) DIY Gus Irawan Masduki saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebudayaan Menimbang antara Kearifan Lokal dan Kemusyrikan di Wisma Kagama, Jumat (7/12/2018). Kegiatan yang digagas oleh Aliansi Mahasiswa Jogja ini juga turut menghadirkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DIY Abdul Muhaimin dan pakar sosiologi Fathorrahman.

Irawan mengatakan banyak kegiatan berbasis budaya yang dibubarkan sekelompok orang karena dianggap musyrik. Seperti pembubaran sedekah laut di Bantul Oktober lalu. Kemudian ada spanduk bertuliskan “Wayangan Bukan Islam” dan juga tradisi sadranan yang dianggap musyrik.

“Padahal arti sadran itu Innalilahi wa innailaihi raji’un, agar orang diingatkan bahwa kita akan kembali kepadaNya,” katanya, Jumat.

Ia mengakui Jawa menjadi tempat tumbuhnya simbol-simbol budaya lokal dan Islam sangat menghormatinya. Islam masuk ke Indonesia juga menggunakan instrumen dakwah yaitu melalui wayang sehingga Islam dan budaya tidak bisa dipisahkan.

Menurut Irawan, seorang penganut Islam harus belajar agama secara historis dan jangan belajar secara instan agar tidak menjadi penganut agama yang radikal. “Dalam rangka memahami Islam harus menjadi Islam yang moderat agar antara agama dan local wisdom bisa harmonis,” katanya.

Muhaimin juga berpendapat Islam tidak pernah membongkar local wisdom tetapi selalu melakukan pendekatan konstruktif agar tidak terjadi benturan sosial di masyarakat.

Musyrik selalu direproduksi dan diaktualisasikan oleh kalangan tertentu. Antara lain karena menipisnya ruang ekspresi, menguatnya identitas populisme kanan, meredupnya hasanah tradisi, dan adanya disrupsi paham keagamaan. “Seolah-olah agama hanya selesai pada pengajian. Harusnya ada ruang ekspresi yang dilestarikan misalnya kebudayaan,” tutur Fathorrahman.

Ketua panitia sarasehan Abdurrachman mengatakan sebagai generasi muda sepatutnya ikut menghormati kebudayaan yang beragam. Jangan sampai perbedaan menjadi pemicu bentrok antar-masyarakat. “Walaupun terjadi perbedaan tradisi, jangan sampai mengacu radikalisme atau saling mengolok-olok,” katanya.