Perpusdes di Gunungkidul Kudu Dilengkapi Akses Internet

Sosialisasi revitalisasi perpusdes di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Jumat (7/12/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
08 Desember 2018 09:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Gunungkidul tengah mendorong pemerintah desa untuk merevitalisasi perpustakaan desa (perpusdes) agar bisa berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Ke depan, pemerintah desa kudu menyediakan fasilitas penunjang teknologi informasi dan jaringan internet di perpusdes.

"Perpusdes yang dulu cuman untuk tempat membaca buku, dengan kegiatan revitalisasi ini perpusdes bisa jadi pusat kegiatan dan belajar masyarakat, sehingga perpustakaan harus menyediakan teknologi informasi yang artinya harus ada jaringan internet," ucap Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Gunungkidul, Ali Ridlo di sela-sela kegiatan sosialisasi revitalisasi perpusdes di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Jumat (7/12/2018).

Ali mengatakan upaya revitalisasi ini diperlukan untuk meningkatkan minat masyarakat berkunjung ke perpusdes. Pasalnya sejauh ini minat masyarakat khususnya di wilayah desa di Gunungkidul untuk menggunakan perpusdes cenderung masih rendah. Anggapan masyarakat bahwa perpustakaan merupakan tempat yang hanya menyediakan bahan bacaan semata kudu diubah.

"Perpusdes itu bisa jadi tempat untuk saling tukar ilmu melalui kegiatan sosialisasi tingkat desa, bisa juga difungsikan untuk menggelar pelatihan-pelatihan. Jangan hanya berfokus pada tempat membaca saja," ujarnya.

Dijelaskan Ali dengan adanya fasilitas tambahan seperti komputer dan jaringan internet di perpusdes, para pemustaka lebih dimudahkan untuk mengakses informasi untuk menunjang ilmu dan ketrampilan mereka.

"Bisa untuk mencari informasi bercocok tanam atau keahlian lainnya. Akses internet di perpusdes ini juga bisa dimanfaatkan untuk media promosi produk lokal setempat," ucapnya.

Ali mencontohkan penggunaan layanan internet untuk media promosi telah diterapkan di perpusdes di Desa Kepek, Kecamatan Wonosari. Pelakunya adalah para pengrajin batik di desa tersebut.
"Upaya tersebut berhasil dan sampai sekarang masih dilakukan," ucap Ali.

Atas hal itu Ali mengharap pemerintah desa bisa berperan penting untuk menujang terlaksanaknya revitalisasi perpusdes ini. Jika terkendala dana, maka pemerintah desa dianjurkan untuk menjalin kerjasama dengan pihak ketiga.

"Kami setiap tahun juga memberi bantuan buku, tapi kalau untuk penyediaan sarpras penujang teknologi informasi bisa dengan pihak keriga, atau memanfaatkan dana desa," ucapnya.

Terpisah, Kepala Desa Kepek, Bambang Setyawan mengatakan pihaknya sejak 2012 lalu sudah mengembangkan perpusdes dengan tambahan fasilitas internet dan komputer. Hal itu diakuinya berdampak pada meningkatnya jumlah kunjungan.

Sejumlah inovasi dengan memindahkan lokasi perpusdes yang awalnya di kantor desa ke lokasi-lokasi strategis turut menjadi penunjang meningkatnya jumlah kunjungan masyarakat. "Dulu awalnya memang di kantor desa terus kami pindah ke tiga titik, salah satunya dengan memanfaatkan pos kamling, ternyata itu berhasil," ujarnya.

Bambang mengatakan internet di perpusdes di desanya dimanfaatkan untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Salah satunya adalah para pengrajin batik yang menjual produknya melalui sosial media.

"Kami bekerjasama dengan kampung batik manding kepek, untuk bagaimana cara membuat batik. Setelah bisa membuat masyarakat juga menjual karyanya melalui dunia maya," jelasnya.

Menurutnya dengan adanya perpustakaan yang dilengkapi fasilitas internet masyarakat tidak hanya dapat mengakses informasi maupun ilmu baru, tetapi juga dapat menambah perekonomian masyarakat Kepek.