EWS Longsor Buatan Bantul, Peringatan Disampaikan Lewat Ponsel Jadul

Pemasangan EWS longsor di Bukit Gunung Empyak, Dlingo, Bantul, Rabu (2/1/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
03 Januari 2019 12:25 WIB Salsabila Annisa Azmi Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJAEarly warning system (EWS) sangat vital untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor. Namun, tak sedikit EWS yang tidak berfungsi lantaran sulit dipahami dan terlalu sensitif. Pria asal Bantul kemudian membuat alat peringatan yang lebih sederhana dan gampang dimengerti. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Salsabila Annisa Azmi.

Ratusan penduduk Nglingseng, Munthuk, Dlingo, Bantul memenuhi Bukit Gunung Empyak, di selatan Bukit Becici, Rabu (2/1/2019. Mereka selama ini tinggal di lokasi rawan longsor. Bahkan di beberapa rumah, rekahan tanah terlihat semakin melebar.

Di tengah kerumunan, Yadi, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Munthuk mengamati layar ponselnya. Di depannya, terdapat EWS buatan Yosef Heru Priyanto.

Setelah beberapa detik, selarik SMS masuk ke ponselnya. Isinya peringatan tanah longsor lengkap dengan berapa sentimeter pergerakan tanahnya. Ratusan warga lainnya takjub dan langsung mengerubuti ponsel tersebut.

Heru, perancang EWS dengan sistem telemetri ponsel sederhana kemudian menjelaskan cara kerja alat yang dirancangnya sejak 2008 itu. Heru dengan sabar mengajarkan cara menyetel ulang software EWS dan juga merawat panel surya yang menjadi sumber daya EWS telemetri ponsel. Sebelumnya, Heru telah memaparkan secara rinci cara kerja EWS telemetri ponsel yang sederhana.

“Saya tidak ingin sekadar memasang EWS di titik longsor, terus sudah, ditinggal. Kalau begitu, sama saja akan terulang kejadian selama ini. Warga tidak paham bagaimana merespons EWS, alatnya dianggurin sama mereka, dianggap mengganggu, tidak ada sistem peringatan dini bencana yang memadai. Sebab akar dari segala permasalahan itu adalah tidak adanya pemahaman lapangan oleh perancang EWS,” kata Heru saat ditemui Harian Jogja di rumahnya di Jl. Imogiri Timur, Kecamatan Banguntapan, beberapa hari sebelum memasang alat bikinannya di Bukit Gunung Empyak.

Sejak 2010, Heru aktif berkelana dari kota ke kota di luar DIY untuk memasang EWS kreasinya. Dia banyak mendengarkan celoteh mengenai EWS. Masih banyak pendukuk perdesaan yang menganggap EWS sebagai pengganggu telinga karena bunyi alarmnya.

Heru pernah menjumpai kasus yang menurutnya unik. Di suatu desa, EWS yang digunakan terlalu mudah berbunyi karena getaran yang bukan berasal dari tanah rawan longsor. Misalnya, ketika ada ayam peliharaan warga yang menyenggol alat itu. Penduduk setempat pun kesal. Beberapa bulan kemudian, alat itu hilang dan tak ada satu pun warga yang peduli.

Ada juga warga yang tinggal di titik longsor tetapi menyingkirkan EWS dan menyimpannya di rumah salah satu pengurus desa. Musababnya, alat tersebut rusak, sementara waktu perbaikannya terlampau lama karena software dan rancangan yang terlalu rumit sulit dipahami oleh para teknisi desa. Ujung-ujungnya, EWS disingkirkan atau hanya menjadi pajangan di pekarangan rumah warga hingga berkarat.

“Berdasarkan keluhan itu akhirnya saya coba membuat EWS yang sederhana, warga paham, sehingga peringatan dini dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat desa,” kata pria kelahiran 1970 ini.

Heru akhirnya merancang EWS sederhana dengan telemetri ponsel jadul alias monokrom yang sudah akrab dengan warga desa. “Jadi tidak harus smartphone, karena orang desa banyak yang enggak punya,” kata pria yang menekuni riset pembuatan EWS sejak 2008 ini.

Melalui SMS

Heru mulai merancang manual book bersama timnya di sebuah kantor yang dia beri nama Universitas Gudang Mantrijeron. Setelah manual book sederhana jadi, Heru berbelanja seluruh bahan baku di toko material terdekat. Dalam satu hari, Heru dapat membuat satu EWS sistem telemetri ponsel.

Sistem EWS rancangannya sangat sederhana. EWS ini memiliki sensor maju dan sensor mundur di sisi kiri kotak EWS. Fungsinya untuk mendeteksi pergerakan tanah yang turun, baik itu di depan base EWS maupun di belakang base (tempat meletakkan alat dan aki) EWS.

Rancangan mesin untuk merespons sensor maju dan sensor mundur dibuat sangat simpel. Heru memasang dua alat inti yang bernama Range Gate dan Modul SMS.

Melalui Range Gate, pengguna dapat mengatur ambang batas gawat dari pergerakan tanah. Misalnya, Range Gate diatur 15 sentimeter. Artinya setelah tanah bergerak ke bawah sejauh 15 sentimeter, alarm akan berbunyi terus-menerus tanda bahwa kondisi sudah gawat. Namun sebelumnya, gerakan tanah sekecil apapun akan dideteksi dan menimbulkan bunyi alarm. Misalnya tanah bergerak dua  sentimeter, alarm akan berbunyi sekali. “Jika telah menyentuh ambang batas yang ditetapkan, alarm akan berbunyi tanpa henti,” jelas Heru.

Range Gate juga akan terhubung dengan Modul SMS yang berfungsi mengirimkan SMS peringatan dini kepada tiga nomor terdaftar. SMS itu berisi panjang pergerakan tanah dan kapasitas aki. Heru menyarankan agar nomor ponsel Ketua RT yang menerima SMS tersebut.

Misalnya Ketua RT menerima SMS tanah bergerak sejauh lima sentimeter, dia dapat mengumpulkan warga atau bersiap-siap evakuasi. Jika pergerakan tanah masih aman, contoh hanya dua sentimeter, ketua RT mengecek keadaan.

“Di lapangan itu selain ada EWS, ada juga bandul yang diletakkan di bawah paralon. Nah, paralon itu diletakkan di tanah rawan longsor. Setelah bandul di dalam paralon itu dicek, bisa ditandai di paralonnya. Tujuannya untuk membuktikan apakah benar tanah bergerak ke bawah dan memantau pergerakan tanah dari hari ke hari. Bandul tidak pernah bohong, kalau alat bisa eror. Tapi alhamdulillah sampai sekarang EWS bikinan saya tidak pernah eror. Jangan sampai itu terjadi,” kata Heru.

Menurut dia, butuh proses yang panjang agar alat rancangannya bisa dipasang di lokasi rawan longsor. Dia berkali-kali mengunjungi rumah warga untuk memberikan pemahaman mengenai cara kerja EWS bikinannya.

Di DIY, warga Nglingseng adalah yang pertama menjajal EWS ini. “Sebelumnya saya selalu pasang di luar DIY, ini pertama kalinya di DIY,” kata Heru.

Inovasi

Heru tak puas sampai di situ. Dia juga memiliki EWS telemetri radio yang sistemnya lebih sederhana daripada telemetri ponsel. Fungsinya supaya ketika ada potensi longsor di dataran tinggi sementara warga berada di dataran yang lebih rendah dan letaknya jauh, mereka dapat mendengar suara horn atau sirene berkat telemetri radio yang digunakan. Heru berniat menyempurnakan EWS yang dipasang di Munthuk dengan telemetri radio, tetapi secara bertahap.

Heru pun juga menyediakan waktunya untuk mendampingi warga membuat EWS sederhana dari batu baterai. Salah satu yang pernah dilakukan adalah saat longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Heru mengajak warga membuat EWS dari batu baterai tabung yang ditanam di tanah rawan longsor agar mereka mewaspadai longsor susulan.

“Yang jelas kalau bikin EWS harus tanggung jawab, siapa yang bikin, dia yang masang, dia yang membenahi. Saya selalu terjun langsung ke lapangan kalau ada alat yang rusak. Secara berkala selalu saya cek, kalau ada yang rusak-rusak tidak bisa dibenahi ya ganti dengan yang baru. Tidak masalah kalau gratis, bagi saya membuat EWS tak bisa murni bisnis karena ini berkaitan dengan nyawa banyak orang,” tutur Heru.

Ke depan, Heru akan terus menyempurnakan EWS rancangannya dengan tetap mengedepankan sistem yang sederhana dan bahan baku yang mudah didapatkan di sekeliling. Sebab yang sering terjadi di banyak titik longsor, EWS yang dipasang merupakan buatan luar negeri. Ketika alat itu rusak, teknisi dalam negara kewalahan. EWS harus dikirim ke luar negeri untuk diperbaiki. Selain boros uang, cara itu juga buang-buang waktu.

Hingga saat ini, Heru telah memasang 130 EWS rancangannya yang tersebar di seluruh Indonesia. “Di Jawa Tengah saya sudah pasang 46, di Jawa Timur saya sudah pasang 48, itu yang saya ingat. Saya terbuka kolaborasi dengan pihak mana pun,” kata Heru.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengatakan pemasangan EWS rancangan Heru di Munthuk adalah inisiatif jawatannya.

"Kami sudah lama mencoba segala alat, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit, sampai akhirnya menemukan alat itu. Kami putuskan kerja sama. Ini adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah," kata Dwi.

"Yang penting, warga memahami alat EWS yang mereka gunakan."

*Artikel ini diubah pada Kamis (3/1/2019) pukul 23:30 WIB dengan menambahkan keterangan dari Kepala BPBD Bantul.