23 Warga Gunungkidul Meninggal karena TBC

Ilustrasi kampanye stop TBC. - JIBI
11 Januari 2019 08:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Kesehatan terus menyisir penderita TBC di Gunungkidul. Penyisiran bertujuan untuk mengetahui jumlah pasti penderita sehingga upaya pencegahan dapat dimaksimalkan.

Data dari WHO menyatakan dari 100.000 penduduk terdapat 336 orang yang menderita penyakit TBC. Jika terus dibiarkan, maka potensi penyebaran akan terus meningkat karena seorang penderita bisa menularkan kepada 15 orang yang sehat.

Pengawas dan Supervisor, Dinas Kesehatan Gunungkidul Murgiono mengatakan, potensi penyebaran penyakit TBC terus meningkat bertambah. Pada 2016 terdapat 429 penderita yang berhasil dideteksi, sedang di 2017 ada 472 orang. Sedang hingga semester tiga 2018, tim telah menemukan 335 penderita baru. “Jumlahnya terus bertambah. Selain itu, dalam dua tahun terakhir ada 23 penderita yang meninggal dunia karena TBC,” kata Murgiono kepada wartawan, Kamis (10/1/2019).

Menurut dia, upaya pendataan akan terus dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jumlah pasti penderita TBC. Terlebih lagi, dinas kesehatan setiap tahunnya ditarget untuk menemukan 1.052 penderita TBC. “Upaya pendeteksian dan pendataan sangat penting karena sebagai cara untuk memaksimalkan pencegahan,” katanya.

Untuk menemukan penderita-penderita TBC baru, dinas kesehatan tidak bisa bekerja sendirian. Sebab dalam upaya penelusuran juga melibatkan masyarakat, lembaga sosial, oragisasi kemasyarakatan hingga organisasi keagamaan. “Deteksi dini terhadap TBC dapaat dilihat potensi batuk yang tak sembuh-sembuh selama dua minggu. Jika menemukan kondisi itu, maka cepat-cepat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Gunungkidul Dewi Anggraini mengatakan, upaya pencegahan akan terus dilakukan. Menurut dia, para penderita tidak perlu khawatir karena pengobatan dilakukan secara gratis. “Obatnya tidak bayar dan ini harus rutin diminum,” katanya.

Dewi menjelaskan, tantangan peberantasan bukan hanya pada saat penyisiran, namun juga pengawasan terhadap upaya penyembuhan bagi penderita. “Setiap penderita harus ada pendamping minum obat. Tujuannya agar obat yang diberikan bisa diminum rutin dan pasien bisa sembuh,” ungkapnya.