Begini Cara Cak Nun Mengungkap Identitas Sengkuni

Adegan dalam pentas Sengkuni 2019 yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (12/1). - Harian Jogja/Arief Junianto
13 Januari 2019 11:20 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dalam kisah epos Mahabharata, tokoh Sengkuni memiliki peran penting untuk membentuk cerita. Perannya sebagai antagonis menjadi bumbu utama dalam perseteruan Pandhawa dan Kurawa.

Berusaha untuk mengaitkan keberadaan Sengkuni dalam konteks sosial kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia saat ini, Teater Perdikan Yogyakarta membawa tokoh yang juga dikenal bernama Sangkuni atau Subala ke atas panggung.

Melalui lakon teater bertajuk Sengkuni 2019 yang digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (12/1), Emha Ainun Nadjib sebagai penulis naskah hendak mencelikkan mata penonton bahwa Sengkuni tak hanya berjaya saat Perang Baratayudha. Hingga era milenial seperti sekarang pun tokoh itu tetap menjadi pergunjingan.

Lakon itu dibuka dengan adegan seorang narator yang diperankan oleh aktor teater senior Joko Kamto. Narator tersebut lantas menceritakan tokoh Sengkuni yang dengan terpaksa memakan 99 saudaranya satu per satu, berikut dengan orang tuanya.

Dalam narasinya, si narator menceritakan ulah Sengkuni itu memang terpaksa dilakukan lantaran kondisi ekonomi, sehingga untuk bertahan hidup dia harus memakan semua saudaranya. Satu-satunya saudara yang tak ia makan adalah kakaknya, Gandari. Bahkan dia memutuskan untuk mengabdi pada perempuan yang diperistri oleh Destaratra, ayah dari Kurawa dan Pandhawa.

Adegan berlanjut pada beberapa fragmen yang dimainkan oleh sejumlah tokoh. Mulai dari sekumpulan anak milenial, hingga Pak Kandheg yang gulana saat anaknya, Bagus mencalonkan diri sebagai pejabat.

Beragam fragmen itu tetap mengerucut pada satu tokoh: Sengkuni. Melalui dialog di masing-masing adegan, Cak Nun seolah hendak menawarkan kepada penonton untuk mencari apa itu Sengkuni, bukan siapa itu Sengkuni.

Adegan dalam Sengkuni 2019

Mereka seperti sama-sama sepakat, lebih dari sekadar tokoh antagonis dalam Mahabharata, Sengkuni itu lebih merupakan tabiat yang jadi biang kekacauan di muka bumi. Dalam lakon itu, Sengkuni seoalh dideklarasikan sebagai “Nabi Kegelapan”, dan “Bapak Adu Domba Internasional”.

Terlebih pada adegan Narator yang sedang berbincang dengan asistennya, Khatib. Adegan perbincangan yang cair antara kedua tokoh itu pun seperti memberikan pilihan pada penonton mengenai keberadaan Sengkuni.

Adegan dalam Sengkuni 2019

Namun fragmen utama pada lakon yang disutradarai Jujuk Prabowo itu sebenarnya terletak pada adegan monolog tokoh Sengkuni di akhir pementasan. Di usianya yang nyaris 60 tahun, Joko Kamto memerankan Sengkuni dengan sangat prima.

Dalam monolognya, Sengkuni seolah “curhat” kepada penonton tentang latar belakang segala ulah kelicikannya. Dia menggugat pemahaman masyarakat selama ini yang menganggap dirinya adalah biang perang Baratayudha.

“Orang baik membenci saya karena kejahatan saya, orang jahat menbenci saya karena saya jadi sumber kejahatan. Banyak orang licik dan munafik, tapi Sengkuni yang disalahkan. Saya jahat karena ditindas, sementara kalian jahat karena pribadi kalian memang hina. Kalian lebih berbahaya karena bernafsu saling memusnahkan” kata Sengkuni ke penonton.

Memang, sebagai penulis naskah, Cak Nun menyebut Sengkuni 2019 adalah media untuk bercermin. Terlebih di tahun politik seperti sekarang ini yang bisa dianggap merupakan gerbang zaman. “Karena setiap manusia memiliki anasir psikologis ke-Sengkuni-annya. Maka secara naluriah, ia akan menyembunyikannya, dengan cara mencari siapa saja orang yang bisa ia tuduh sebagai Sengkuni,” kata Cak Nun.