Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Ilustrasi perceraian/ist-divorceandmoneymatters
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Pengadilan Agama Gunungkidul menyoroti masih tingginya angka perceraian. Guna mengurangi kasus ini, bimbingan perkawinan kepada mempelai sebelum menikah akan digalakkan. Untuk pelaksanaan, setiap tahunnya ditargetkan ada 1.200 calon mempelai mengikuti bimbingan.
Data dari pengadilan agama, kasus perceraian di Gunungkidul terus menurun. Meski demikian, dalam tiga tahun terakhir angka perceraian masih menembus 1.000 kasus per tahunnya.
Kepala Seksi Humas Pegadilan Agama Gunungkidul, Barwanto mengatakan, jumlah perceraian masih terhitung tinggi. Hingga akhir Juni sudah ada putusan sebanyak 585 kasus. “Mudah-mudahan tidak lebih banyak dengan putusan di 2018,” kata Barwanto kepada wartawan, Senin (15/7/2019).
Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajuan gugatan cerai. Selain masalah ekonomi, perceraian juga disebabkan karena permasalahan keluarga hingga penggunaan media sosial yang menimbulkan keretakan dalam bahtera rumah tangga karena hadirnya orang ketiga.
“Banyak kasus dan latar belakang perceraian berbeda-beda. Misal ketidaksesuaian tinggal saja bisa menjadi penyebab harus pisah. Adalagi peran orang ketiga yang muncul akibat bermain media sosial,” katanya.
Dia menjelaskan, putusan gugatan cerai merupakan langkah terakhir. Bahkan, sambung Barwanto, pada saat proses pengajuan kedua pasangan masih dilakukan mediasi agar mengurungkan niatan tersebut. “Biasanya saat mengajukan permohonan sudah matab bercerai. Memang pada saat mediasi ada yang batal, tapi kebanyakan lanjut ke proses perceraian,” ungkapnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Aidi Johansyah mengatakan, pihaknya menyadari kasus perceraian di Gunungkidul masih tinggi. Menurut dia, KUA selaku pihak yang melakukan pencatatan dan pelaksanaan pernikahan juga ikut bertanggungjawab terkait dengan maraknya kasus perceraian.
Dia menuturkan, untuk mengurangi kasus ini, sejak 2018 lalu, kemenag melalui KUA di seluruh kecamatan menggerakan kegiatan bimbingan perkawinan. Menurut Aidi, program ini sudah ada sejak lama, tapi mulai dihidupkan kembali sejak tahun lalu. “KUA tidak hanya menikahkan, tapi juga harus ikut dalam upaya melanggengkan pernikahan. Salah satunya memberikan bimbingan terkait dengan seluk belum rumah tangga bagi calon mempelai,” katanya.
Aidi menuturkan, untuk bimbingan perkawinan, kemenag menargetkan 1.200 pasangan mengikuti program ini setiap tahunnya. “Bimbingan ini diberikan secara gratis dan diselenggarakan di setiap KUA. Harapannya dengan pemberian bekal sebelum menikah bisa melanggengkan pasangan,” katanya.
Data Perceraian di Gunungkidul
Tahun Jumlah
2015 1.466 kasus
2016 1.301 kasus
2017 1.264 kasus
2018 1.433 kasus
2019* 585 kasus
*) sampai akhir Juni
Sumber: Pengadilan Agama Gunungkidul
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Jadwal KA Bandara YIA Selasa 29 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap di sini.
Delapan warga Sleman dari dua KK siap mengikuti transmigrasi 2026 ke Poso dan Polewali Mandar. Mereka tinggal menunggu jadwal pemberangkatan.
Jadwal SIM Kulonprogo hari ini, Selasa 29 September 2026, tersedia di MPP. Cek lokasi, jam layanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
John Herdman menyebut kartu merah Thom Haye saat Indonesia vs Malaysia menjadi pelajaran penting bagi skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.