BI Gelar QJI x JRF 2026, Dorong QRIS dan UMKM Jogja
BI DIY gelar QJI x JRF 2026 di Jogja untuk dorong QRIS, UMKM, dan kecintaan generasi muda terhadap Rupiah.
Lokomotif melintasi rel Jogja-Ambarawa di Parakan, Jawa Tengah, pada 1943. - wikimedia.org/tropenmuseum
Harianjogja.com, JOGJA—Pembangunan rel sepur rute Jogja-Semarang diprediksi sulit terwujud apabila menggunakan jalur lama yang sudah mati. Proyek ini hanya mungkin direalisasikan apabila dibangun sejajar dengan jalur tol dan melayang (elevated).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Budi Wibowo mengatakan rencana pembangunan rel Jogja-Semarang yang melewati Borobudur sejauh ini masih dalam perencanaan. Belum ada pemaparan resmi dari Pemerintah Pusat terkait dengan proyek tersebut.
Pemda DIY tetap menginginkan agar pembangunan jalur kereta dilakukan secara melayang dan sejajar dengan jalan tol. Menurutnya, usulan tersebut sesuai dengan harapan dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.
“Ngarso Dalem ingin pembebasan jalan tol bisa dilakukan juga untuk pembebasan jalur rel kereta. Jadi jalur kereta sejajar dengan tol,” kata Budi, Selasa (27/8/2019).
Menurut Budi, keinginan Sultan tersebut didasarkan pada tingginya biaya yang akan dikeluarkan jika jalur KA tersebut dibangun at grade atau di darat. Sultan juga tidak ingin jika jalur KA tersebut membebaskan banyak lahan. Menghidupkan lagi jalur mati Jogja-Semarang adalah pekerjaan mustahil. “Itu tidak memungkinkan. Biayanya tambah besar karena jalur kereta lama sudah dipenuhi oleh bangunan. Yang bisa dilakukan [dibangun] menempel dengan jalan tol,”katanya.
Rel Jogja-Semarang tersebut rencananya terkoneksi dengan Stasiun Tugu. Dengan begitu jalur tersebut akan menjadi satu kesatuan transportasi penunjang pariwisata di tiga wilayah, Jogja-Solo-Semarang. Namun, kata Budi, sampai saat ini belum ada kejelasan soal rencana pembangunan jalur kereta.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Sigit Sapto Raharjo juga mengomentari rencana pembangunan jalur kereta tersebut. Menurutnya pelaksanaan proyek kereta api Jogja Semarang masih menunggu kepastian. Saat ini belum ada detail engineering desain (DED).
Sebelumnya, Sekda DIY Gatot Saptadi mengakui rencana pembangunan jalur kereta Semarang-Jogja akan terkoneksi hingga ke Parangtritis. Namun, sampai saat ini belum ada komunikasi dari Ditjen Perkeretaapian terkait rencana pembangunan jalur tersebut. Dia juga tidak yakin proses pembangunan akan dilakukan dalam waktu dekat.
Apalagi sampai saat ini izin penetapan lokasi (IPL) untuk jalur kereta api juga belum keluar.
Gatot mengatakan rencana menghidupkan jalur kereta dari sisi utara hingga selatan sudah masuk dalam rencana tata ruang dan wilayah (RTRW).
Adapun Deputi EVP Daops 6 Sugiyono mengatakan proyek tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Sebagai operator, PT KAI hanya menunggu perintah untuk mengoperasikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BI DIY gelar QJI x JRF 2026 di Jogja untuk dorong QRIS, UMKM, dan kecintaan generasi muda terhadap Rupiah.
China tanam 66 miliar pohon di Great Green Wall. Hutan buatan tumbuh 66% lebih cepat, tapi hutan alami lebih unggul untuk penyimpanan karbon jangka panjang.
Cara hitung pajak progresif kendaraan: mobil kedua 3%, motor kedua 2%. Simak contoh perhitungan PKB + SWDKLLJ agar tak kaget dengan tagihan pajak!
Neymar resmi pensiun dari timnas Brasil setelah kalah 1-2 dari Norwegia di 16 besar Piala Dunia 2026. 80 gol dalam 130 laga jadi warisan sang megabintang.
Tiga makanan sederhana yakni mentimun, lemon, dan peterseli disebut dapat membantu menjaga fungsi ginjal dan menurunkan risiko batu ginjal.
Kemenangan Ai Ogura di MotoGP Belanda 2026 menyisakan empat pembalap yang masih menanti kemenangan perdana di kelas premier MotoGP.