Olah Sampah Jadi Energi, Pekerja GO-SARI Kini Dilindungi BPJamsostek
Program GO-SARI mengolah sampah menjadi energi sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kini para pekerjanya mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaa
Lokomotif melintasi rel Jogja-Ambarawa di Parakan, Jawa Tengah, pada 1943. - wikimedia.org/tropenmuseum
Harianjogja.com, JOGJA—Pembangunan rel sepur rute Jogja-Semarang diprediksi sulit terwujud apabila menggunakan jalur lama yang sudah mati. Proyek ini hanya mungkin direalisasikan apabila dibangun sejajar dengan jalur tol dan melayang (elevated).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Budi Wibowo mengatakan rencana pembangunan rel Jogja-Semarang yang melewati Borobudur sejauh ini masih dalam perencanaan. Belum ada pemaparan resmi dari Pemerintah Pusat terkait dengan proyek tersebut.
Pemda DIY tetap menginginkan agar pembangunan jalur kereta dilakukan secara melayang dan sejajar dengan jalan tol. Menurutnya, usulan tersebut sesuai dengan harapan dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.
“Ngarso Dalem ingin pembebasan jalan tol bisa dilakukan juga untuk pembebasan jalur rel kereta. Jadi jalur kereta sejajar dengan tol,” kata Budi, Selasa (27/8/2019).
Menurut Budi, keinginan Sultan tersebut didasarkan pada tingginya biaya yang akan dikeluarkan jika jalur KA tersebut dibangun at grade atau di darat. Sultan juga tidak ingin jika jalur KA tersebut membebaskan banyak lahan. Menghidupkan lagi jalur mati Jogja-Semarang adalah pekerjaan mustahil. “Itu tidak memungkinkan. Biayanya tambah besar karena jalur kereta lama sudah dipenuhi oleh bangunan. Yang bisa dilakukan [dibangun] menempel dengan jalan tol,”katanya.
Rel Jogja-Semarang tersebut rencananya terkoneksi dengan Stasiun Tugu. Dengan begitu jalur tersebut akan menjadi satu kesatuan transportasi penunjang pariwisata di tiga wilayah, Jogja-Solo-Semarang. Namun, kata Budi, sampai saat ini belum ada kejelasan soal rencana pembangunan jalur kereta.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Sigit Sapto Raharjo juga mengomentari rencana pembangunan jalur kereta tersebut. Menurutnya pelaksanaan proyek kereta api Jogja Semarang masih menunggu kepastian. Saat ini belum ada detail engineering desain (DED).
Sebelumnya, Sekda DIY Gatot Saptadi mengakui rencana pembangunan jalur kereta Semarang-Jogja akan terkoneksi hingga ke Parangtritis. Namun, sampai saat ini belum ada komunikasi dari Ditjen Perkeretaapian terkait rencana pembangunan jalur tersebut. Dia juga tidak yakin proses pembangunan akan dilakukan dalam waktu dekat.
Apalagi sampai saat ini izin penetapan lokasi (IPL) untuk jalur kereta api juga belum keluar.
Gatot mengatakan rencana menghidupkan jalur kereta dari sisi utara hingga selatan sudah masuk dalam rencana tata ruang dan wilayah (RTRW).
Adapun Deputi EVP Daops 6 Sugiyono mengatakan proyek tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Sebagai operator, PT KAI hanya menunggu perintah untuk mengoperasikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program GO-SARI mengolah sampah menjadi energi sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kini para pekerjanya mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaa
Donyell Malen mencetak hattrick saat AS Roma membantai Fiorentina 4-0. Roma pun langsung memuncaki klasemen Liga Italia.
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Danantara DSI menargetkan platform tata kelola ekspor SDA mulai beroperasi 1 September 2026 dengan tiga komoditas senilai hampir US$70 miliar.
BMKG memprakirakan cuaca kota besar Indonesia pada Selasa didominasi berawan. Sejumlah wilayah berpotensi hujan ringan dan udara kabur.
Sebanyak 237 penyintas gempa Flores mulai pulang dari GOR Samador. Pemerintah menyiapkan bantuan rumah rusak hingga Rp30 juta.